Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #28

Tawaran Paling Jujur yang Pernah Aku Ucapkan

Aku turun ke tingkat suara yang paling pelan, yang paling jarang aku pakai, karena biasanya aku nggak butuh serendah ini buat penghuni yang udah cukup lelah. Aku sengaja bikin suaraku lebih kedengeran sama manusia kali ini.

"Rindu."

Dia kaget, nengok ke arah dinding. Matanya masih basah.

"Dulu kita sempet kenalan waktu pertama kali kamu ke sini. Namaku Rumemo. Mungkin kamu inget?”

“Jadi, kamu… selama ini… yang ngasih aku kekuatan?”

“Iya,” jawabku, lalu aku segera meralat. “Tapi nggak juga. Nggak sepenuhnya. Tetep butuh keputusan kamu sendiri, apa kamu mau kasih luka kamu ke aku. Kalau iya, kamu dapet kekuatan itu.”

“Jadi, gara-gara luka…”

“Sekarang aku tahu kamu capek," kataku. "Aku tahu kamu satu-satunya yang masih inget semuanya. Beban itu berat, kan? Ngeliat ayahmu ketawa tanpa alasan yang jujur. Ngeliat adikmu tumbuh tanpa tahu siapa ibunya. Semua beban itu, kamu tanggung sendirian."

"Terus?" suara Rindu parau. "Kamu mau ngurangin sakitnya dengan ngasih kekuatan apa lagi? Aku harus kasih kenangan tentang apa lagi?"

"Aku nggak mau ambil apa-apa lagi dari kamu," kataku, dan ini, sejujurnya, bagian yang paling jujur dari semua yang pernah aku ucapin ke penghuni mana pun. "Aku mau kasih sesuatu yang lebih besar dari kekuatan apa pun."

Rindu diam. Curiga, tapi juga, aku bisa dengar, ada secercah harapan yang nggak bisa dia tahan.

"Kasih apa?"

"Aku bisa kembaliin wajah Kenanga. Cuma buat kamu. Utuh, kayak dulu. Nggak perlu kamu tunggu bisa mimpiin dia lagi. Itu bakal terasa nyata. Kamu bisa liat senyumnya lagi, denger suaranya manggil nama kamu, ngerasain persis gimana dia nyisir rambutmu waktu kamu kecil."

"Kenapa... kenapa tiba-tiba kamu mau ngasih ini?"

"Karena aku pengen kamu berhenti berjuang," jawabku, jujur. "Aku capek liat kamu sakit sendirian. Ini bukan jebakan, Rindu. Ini tawaran tulus."

Ini setengah bohong. Aku emang capek liat dia sakit. Tapi aku juga tahu, kalau Rindu terima ini, dia bakal berhenti jadi ancaman. Dia bakal berhenti mempertanyakan aku. Bakal berhenti nyoba nyelametin Damba dan Bagja.

Menang-menang, pikirku. Dia dapet yang dia mau, aku dapet yang aku mau.

"Tapi ada syaratnya, kan?" tanya Rindu, suaranya gemetar tapi matanya udah mulai berbinar, jenis binar yang cuma muncul waktu orang ngebayangin sesuatu yang mereka udah lama banget nggak berani harapkan.

Aku diem sebentar. Nggak bisa bohong soal ini.

"Syaratnya, kamu berhenti nyoba ngajak Damba dan ayahmu keluar dari sini. Kamu terima keadaan ini apa adanya. Dan kamu berhenti turun ke ruang bawah tanah."

"Cuma itu?"

Lihat selengkapnya