Aku jarang cerita soal enam keluarga sebelum keluarga Sertamulia. Nggak. Aku bukannya lupa. Aku nggak pernah lupa apa pun. Ironis, ya? Padahal, kerjaanku bikin orang lain lupa.
Aku cuma nggak suka mikirin mereka. Karena mereka sebagian besar udah lupa total tentang siapa diri mereka. Sebagian besar udah bahagia dengan kekuatannya dan milih tinggal di alam lain tanpa identitas.
Keluarga pertama, keluarga Wijaya, dateng ke aku lebih dari seratus tahun lalu. Bapaknya, waktu itu, dapet kamar ketapel. Cukup buat nangkis batu yang jatoh dari atap, cukup buat nyelametin diri dari kecelakaan kecil. Seandainya dia punya kekuatan itu lebih dulu buat nyelametin kebakaran yang bikin rumahnya hangus.
Istrinya pergi sehabis semuanya ludes jadi abu. Dia tinggal di sini bareng sisa dua anak kecil yang ditinggal, tumbuh besar di dalam diriku, jadi orang dewasa yang ramah. Salah satu dari mereka punya kekuatan bisa nyalin suara orang lain persis, sampe dia sendiri lupa gimana suaranya yang asli.
Keluarga kedua, keluarga Cassandra, cuma tinggal tiga tahun. Anak bungsu mereka bisa bikin bayangannya sendiri kepisah, jalan sendiri, ngerjain PR sendiri, sementara dia sendiri tidur seharian. Praktis banget, katanya, waktu itu.
Sampai suatu hari, bayangan itu jalan-jalan lebih lama dari biasanya, dan anak itu sendiri lupa gimana caranya manggil bayangannya balik. Tiga tahun kemudian, seluruh keluarga itu, ya, semuanya, jadi kabut di toples-toples ruang bawah tanahku. Aku bahkan lupa nama depan mereka, karena mereka sendiri, di akhir masa tinggal, udah lupa nama masing-masing.
Keluarga ketiga sampai kelima, aku nggak akan cerita detail, karena polanya mirip. Satu punya kekuatan bisa manggil ikan-ikan lompat sendiri dari kali kering deket rumah, buat ngasih makan keluarganya waktu paling miskin. Satu lagi bisa bikin tanaman tumbuh dalam semalam.
Satu lagi, hm, aku lupa. Atau lebih tepatnya, aku nggak mau inget, karena kekuatan itu, entah kenapa, selalu ujungnya sama: dipake terus, dipake lagi, sampe pemiliknya lupa kenapa dia butuh kekuatan itu dari awal.
Selalu ada satu orang yang mulai curiga. Selalu ada momen mereka nemuin pintu ruang bawah tanah yang nggak berhasil dibuka. Tapi selalu, selalu, mereka berhenti di titik itu. Mereka nemuin kebenarannya, terus mereka mikir, "yah, mau gimana lagi, toh aku bisa manggil ikan," dan mereka pilih tetap tinggal.
Keluarga keenam, keluarga Nyang, yang sekarang tinggal berdampingan dengan keluarga Sertamulia, dulunya juga punya satu orang yang curiga: Bu Sukmiati sendiri, sebelum dia jadi "Bu Sukama".
Iya. Bu Sukama dulu adalah Rindu versi lain.