Aku masih mikirin Bu Sukmiati waktu Rindu turun ke ruang belakang malam itu.
Aku masih mikirin gimana kekuatan yang tadinya senjata bisa berubah jadi mainan, gimana luka yang tadinya jadi alasan buat bertahan bisa berubah jadi alasan buat nyerah. Aku pikir aku udah selesai mikirin itu semua, udah lega karena Rindu nolak tawaranku.
Ternyata belum selesai. Rindu belum selesai juga.
Malam itu, diam-diam, dia keluarin lagi koper lama yang dulu mereka bawa waktu pertama kali sampai di sini, yang selama ini teronggok di sudut gudang, berdebu, hampir dilupain. Dia mulai packing. Baju-baju, buku catatan kecilnya, foto keluarga yang satu-satunya selamat.
Aku bisa ngerasain dia nahan diri buat nggak ngebekuin jarum jam satu detik atau satu menit malam itu. Kalau dia mau, dia bisa bikin proses packing ini kelar dalam sekejap, tanpa harus dengar isi kepalanya sendiri yang berisik. Tapi dia nggak pake kekuatannya. Sejak kejadian sama Damba, dia udah janji ke diri sendiri: cara manusia. Bukan cara jalan pintas.
Damba kebangun, lihat kakaknya packing.
"Kakak mau ke mana?"
"Kita pindah, Damba. Kita harus keluar dari sini."
"Kenapa? Kan di sini enak."
"Karena..." Rindu berhenti, mencoba nyari kata yang bisa dimengerti bocah sekecil itu. "Karena rumah ini nggak baik buat kita. Dia ngambil hal-hal penting dari kita, pelan-pelan, tanpa kita sadar. Sama kayak yang ngambil dari kamu, Damba. Kekuatan kamu, kekuatan Ayah, itu bukan hadiah. Itu harga."
Damba nggak ngerti. Wajahnya bingung, bahkan mulai gelisah. Tangannya ngepel di samping badan. Jari-jarinya sedikit gemetar, dan aku bisa ngerasain sesuatu di dadanya lagi ngumpul, kayak dulu, di lapangan sekolah waktu diejek.