Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #32

1x Lagi Tawaran Terakhir

Rindu duduk sendirian di lantai, membelakangi tivi yang nyala otomatis. Aku nggak mau bikin rumah ini sepi di mata dia. Ruang belakang sengaja belum aku rapikan dari plafon yang runtuh biar dia kapok ke sana lagi. Damba lagi main sama Osaga di halaman tetangga sebelah. Bagja masih sibuk ngangkut semen sama Pak Yono.

Aku bisa ngerasain napas berat Rindu. 

Aku turun ke suara paling pelan yang aku punya. Kayak kemaren. Semoga dia mau denger aku. "Rindu…"

Dia nengok ke sudut atas langit-langit. Matanya udah nggak sebasah biasanya. Lebih ke kosong. Kelelahan yang udah ngelewatin nangis.

"Aku tahu kamu capek.” Aku berusaha membujuknya, bahkan ngehibur dia. "Lebih capek dari nyimpen kenangan pahit. Kamu capek ngeliat ayah kamu nolak buat pergi bareng kayak dulu. Capek juga ngeliat adik kamu punya kekuatan yang dia suka. Kamu capek ngeliat semuanya jalan ke arah yang kamu nggak bisa kontrol."

"Itu bener.” Suaranya datar. "Terus, kamu punya apa? Mau nawarin wajah Ibu lagi? Aku udah bilang, aku nggak bisa.”

"Bukan itu," sanggahku. "Kali ini beda. Aku mau tawarin sesuatu yang kamu bakalan suka. Sesuatu yang kamu lagi butuhin sekarang.”

Rindu diem, nunggu, curiga. Tapi juga terlalu capek buat langsung nolak sebelum denger.

"Kamu udah tahu soal kamar-kamar itu, kan?" lanjutku. "Soal kamu yang bisa hentiin waktu. Damba yang bisa lempar barang pake tatapan. Ayah kamu yang bisa jadi ringan, bahkan terbang, dan mungkin hilang. Origa juga bisa nyamar jadi apa pun, sembunyi kayak keahliannya dulu.”

“Origa udah jelasin, kok. Tiap kali kami pake kekuatan-kekuatan semacam itu, ada bagian dari diri kami yang ilang."

“Luka?” tanyaku, mengujinya.

Rindu terkekeh. “Awalnya, aku kira luka. Ternyata itu ingatan yang berharga.”

“Ingatan penyebab luka.”

"Iya," Rindu ngangguk pelan. "Lama-lama ketagihan. Ketagihan buat nggak ngerasain apa pun.” Rindu lalu menggeleng. “Tapi aku nggak mau lupa. Aku nggak mau lupa sama hidup aku sendiri.”

"Ada satu kamar yang mesti kamu coba tidur di sana," seruku, bermaksud bikin dia punya harapan sekali lagi. "Kamar boneka. Kamu udah liat kerjanya, lewat Bu Sukama."

Rindu diam, sesuatu di wajahnya berubah, campuran antara ngerti dan takut.

"Kamu mau nawarin aku... kekuatan kayak dia?"

"Aku mau nawarin kamu pindah," jawabku, pelan tapi jelas. "Permanen. Ke kamar itu. Kalau kamu mau, aku bukain. Nggak akan aku kunci lagi."

*

Rindu berdiri, langkahnya mundur sedikit, kayak jarak fisik bisa ngelindungin dia dari apa yang baru aja aku ucapin.

"Kamu gila," bisiknya.

"Dengerin dulu," ujarku. Nggak ngejar, cuma ngikutin dengan suara yang tetep tenang. "Kamu capek ngelawan, kan? Capek ngejelasin ke ayah kamu yang nggak mau dia percaya atau setuju. Capek jaga adik kamu sendirian, karena cuma kamu yang inget kenapa dia harus dijaga. Kalau kamu punya kekuatan kayak Bu Sukama, kamu nggak perlu ngejelasin apa-apa lagi. Kamu nggak perlu capek ngeyakinin siapa pun."

"Terus aku ngapain sama kekuatan itu?" Suaranya gemetar, tapi dia nggak lari.

Lihat selengkapnya