Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #33

Bagja dan Cermin

Ada satu benda di sini yang jarang aku ceritakan. Karena jujur aja, aku sendiri nggak sepenuhnya paham cara kerjanya.

Cermin di kamar mandi Bagja.

Dia bukan cermin biasa yang aku ciptakan dari udara kosong kayak barang-barang lain di rumahku. Cermin itu dibawa masuk dari luar, ikut nyempil di antara tiga kardus dan satu koper malam pertama mereka datang. Aku sendiri hampir nggak sadar kehadirannya waktu itu. Saking kecilnya, saking nggak pentingnya kelihatan di antara panci-panci dan baju-baju kusut.

Belakangan aku tahu, cermin itu dulunya punya Kenanga. Satu-satunya barang dari rumah lama yang nggak sengaja terselamatkan. Terselip di dasar koper karena Rindu buru-buru masukin apa aja yang keliatan waktu packing malam penyitaan itu, tanpa sempat mikir barang siapa yang dia ambil.

Dan karena benda itu nggak pernah jadi bagian dari diriku, nggak pernah aku ciptakan, nggak pernah aku sentuh dari awal keberadaannya, dia nggak ikut tunduk sama hukum-hukumku. Semua yang aku bikin, dinding, kamar, bahkan udara yang aku alirkan, semuanya lahir dari aku, jadi semuanya bisa aku atur sesuka hati. Tapi cermin itu punya sejarahnya sendiri, jauh dari jangkauanku, dari sebuah rumah yang udah nggak ada lagi, dipegang oleh tangan yang udah nggak ada lagi juga.

Mungkin itu sebabnya dia cuma memantulkan apa yang benar-benar ada, bukan apa yang aku ingin orang lihat. Dia nggak minjem apa pun dariku buat bisa berdiri di situ. Jadi dia juga nggak berutang apa pun buat nurut sama aturanku.

Aku pikir, kalau boleh jujur, ini semacam ironi yang pahit. Dari semua benda di rumahku, satu-satunya yang menolak berbohong justru satu-satunya yang bukan milikku. Kejujuran, ternyata, memang nggak pernah bisa aku ciptakan sendiri. Dia cuma bisa dibawa masuk, dari luar, oleh orang yang masih cukup nekat untuk membawanya.

Aku biasanya menghindari kamar mandi itu waktu Bagja pakai. Aku bisa aja hadir di mana pun di dalam batasku. Tapi karena cermin itu satu-satunya tempat di seluruh diriku di mana aku merasa harus lihat diriku sendiri. 

Dan malam itu, aku kebetulan lagi ngelihat ke sana. Bagja lupa matiin lampu, dan aku lagi dalam perjalanan buat matiin lampu-lampu sendiri seperti biasa. Waktu aku ngelihat Bagja berdiri diam di depan cermin, aku merhatiin cukup lama.

Dia baru pulang kerja. Wajahnya masih basah bekas cuci muka. Air menetes dari dagu, tapi dia nggak bergerak buat ngambil handuk. Dia cuma natap pantulannya sendiri, kayak orang yang mencoba mengenali seseorang yang wajahnya familiar tapi namanya lupa.

"Ayah! Ayah udah makan malam belum?" Rindu naik ke tangga mezzanine, terus dia turun lagi. Dia nggak berani masuk ke kamar ayahnya. “Jangan kelamaan di kamar mandinya.”

"Nanti nyusul," seru Bagja, buru-buru ngambil handuk, tersenyum kecil ke arah Rindu lewat pantulan cermin. Rindu berlalu, dan Bagja kembali sendirian.

Tapi dia nggak langsung pergi. Dia natap cerminnya lagi.

Aku, dari balik dinding, ikut natap. Aku menyebar dalam udara ruangan itu, dengerin detak jantungnya, ngerasain suhu tubuhnya.

Aku menyadari sesuatu: aku nggak bisa baca pikiran dia secepat biasanya. Cermin itu, entah kenapa, ngebuat sesuatu di dalam dirinya jadi lebih... jelas. Lebih jujur pada dirinya sendiri, dengan cara yang bahkan aku nggak bisa ikut campur.

Lihat selengkapnya