Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #34

Tawaran Bagus buat Damba, Kekuatan Level Tinggi

Karena tawaran ke Rindu gagal, dan dia makin jadi ancaman nyata, aku ambil jalan yang lebih putus asa.

Malam berikutnya, waktu Rindu ketiduran karena kecapekan nangis, aku datengin Damba di kamarnya, dengan suara paling lembut yang aku punya, kayak suara ibu yang udah dia lupa dia pernah punya.

"Damba."

Damba kebangun, nggak kaget. Kayak udah biasa denger suara ini di mimpi-mimpinya.

"Kamu kesel denger Kak Rindu marah-marah terus?"

Damba manggut. Matanya berkaca-kaca. "Aku nggak ngerti kenapa Kak Rindu kayak gitu.”

"Kamu nggak perlu ngerti. Kamu cuma perlu jadi orang kuat. Bener-bener kuat, Damba. Aku bisa kasih kamu itu. Kamu bisa ngasih apa pun yang Kak Rindu pengenin. Kamu bisa datengin barang-barang yang kamu pikirin. Jadi, ini cuma ngandelin pikiran kamu. Nggak usah lagi mindahin barang depan mata."

“Misalnya apa?”

“Misalnya, sepeda baru yang besar. Kamu tahu Kak Rindu butuh sepeda bagus. Bukan bekas kamu. Kamu bisa pikirin itu dan sepeda bakal dateng.”

Damba, anak polos itu, kemudian segera membuktikannya. Sepeda beneran dateng. Masih kebungkus plastik bening. Damba ternganga. Dia nggak tahu aja, ada salah satu barang di toko sepeda yang hari ini hilang.

Kesempatanku buat melanjutkan, “Semuanya, hal-hal yang bikin kamu bingung dan takut, bisa kamu lawan dan bisa kamu buktiin dengan satu tatapan aja. Termasuk rasa bingung soal Kak Rindu.”

"Termasuk... Kak Rindu?"

"Kamu bisa bahagia banget, Damba. Nggak akan ada lagi yang bikin kamu takut, bingung, atau sedih. Kamu cuma perlu luapin semuanya dengan satu tatapan. Hal-hal yang kamu pikirin bakal muncul. Tapi kamu harus lewatin satu hal. Sekarang, kamu merem dulu sambil bilang 'aku pengen bahagia'. Biar aku bantu hilangin yang bikin sakit. Tiap kamu lihat wajah kakakmu nanti, pelan-pelan, kamu udah nggak sakit."

Damba diam, ngantuk, capek, bingung, persis kondisi yang aku butuhin buat bikin dia bilang iya. Aku suruh dia bersimpuh di hadapan dinding. Dia nurut. Kepalanya menghadap ke depan dengan tangan terpaut, persis kayak orang lagi berdoa. Dia merem.

Dia mau ngangguk.

Dan detik itu juga, pintu kamar kebuka.

Rindu berdiri di situ. Wajahnya pucat. Matanya masih basah dari malam sebelumnya, tapi ada sesuatu di sorot matanya yang berubah.

Bukan takut lagi.

Dia marah. Marah yang berasal dari cinta yang nggak mau nyerah.

"JANGAN," teriak Rindu, lari ke sisi kasur Damba, meluk adiknya erat-erat. Sepeda itu seketika jatuh karena tersandung kaki Rindu.

Lihat selengkapnya