Rumah Penghisap Luka

Kartini F. Astuti
Chapter #35

Pulang Lagi ke Rasa Sakit

Aku nggak bisa nahan mereka kayak dulu.

Bukannya aku kalah. Tapi karena rumah kayak aku cuma bisa hidup dari penghuni yang bersedia dititipkan lelahnya. Begitu satu keluarga, dengan sadar dan sepenuh hati, milih buat ngebawa balik semua rasa sakit yang tadinya mereka titipkan, aku nggak punya hak buat nahan.

Bagja jalan ke tengah ruangan, meluk Rindu dan Damba erat-erat.

"Maafin Ayah," katanya. Suaranya pecah. Ini kali pertama sejak Kenanga meninggal, dia benar-benar berduka, bukan sekadar sedih permukaan yang selama ini aku poles jadi ketenangan palsu. "Ayah harusnya nggak lari dari sakitnya. Ayah harusnya jagain kalian, bukan malah nyuruh kalian diem soal Ibu. Dan Rindu, Nak, maaf, Ayah nggak pernah sadar kamu nanggung semua ini sendirian."

"Ayah," Rindu meluk balik, nangis, "kita pulang aja, yuk. Ke manapun. Asal kita bertiga."

Mereka packing malam itu juga. Koper lama yang sempat ditinggal di ruang belakang, sekarang penuh lagi. Kali ini bukan cuma baju, tapi juga keberanian.

Aku buka pintu sendiri. Teringat waktu mereka pertama kali datang. Tapi kali ini, aku buka pintu bukan buat mengundang.

Buat melepas.

*

Mereka berdiri di depan pagar, natap balik ke arahku. Buat sesaat, aku pengen bilang sesuatu, minta maaf mungkin, atau seenggaknya menjelaskan kenapa aku begini. Tapi aku sadar, penjelasan apa pun nggak akan ngembaliin sepenuhnya apa yang udah aku ambil.

Yang bisa aku lakuin cuma satu hal terakhir.

Aku kembalikan apa yang masih bisa aku kembalikan.

Toples-toples di ruang bawah tanahku kebuka satu per satu. Aroma sayur lodeh, rasa sup kacang merah, nyanyian sumbang Kenanga, panggilan sayang "Rindu Anak Ayah", semuanya melayang keluar lewat celah-celah dinding, kembali ke arah pemiliknya, kayak kunang-kunang yang akhirnya dilepas dari toples setelah lama dipenjara. 

Nggak semuanya utuh. Sebagian udah terlalu lama disimpan, bentuknya berubah, jadi lebih samar dari aslinya. Wajah Kenanga sendiri nggak kembali sepenuhnya sempurna, cuma sebagian, cukup buat Rindu bisa mulai membangunnya lagi dari fragmen-fragmen, dibantu ingatan Bagja dan foto keluarga yang mereka bawa.

Tapi paling enggak, semuanya kembali.

Rindu ngucapin selamat tinggal ke toples-toples yang masih milih bertahan. Toples-toples yang masih dipenuhi kabut.

Sebelum melangkah ke luar pagar, Rindu juga sempet bilang ke Origa bahwa cara terbaik buat keluar dari rumah ini adalah dengan bilang, “Aku siap nikmatin rasa sakitnya.” Origa ngangguk, mau nyoba nyari cara biar ibu dan adik-adiknya ngucapin kata-kata itu dengan tulus.

*

Di trotoar, tempat yang sama persis waktu mereka pertama kali duduk kebingungan malam itu, keluarga itu duduk lagi. Kali ini bukan dengan tiga kardus dan satu koper kosong harapan.

Tapi dengan satu koper, dan pelukan yang nggak mau lepas.

Lihat selengkapnya