Beberapa malam kemudian, aku berdiri. Satu-satunya cahaya di ujung gang yang mati ini, menunggu. Karena menunggu adalah satu-satunya hal yang benar-benar aku tahu caranya.
Jauh di ujung gang lain, gang yang bukan gangku, yang nggak bisa aku jangkau, aku melihat sesuatu berkelip sebentar. Cahaya kecil, hangat, muncul di antara bangunan-bangunan yang sebelumnya gelap.
Dan di depan cahaya itu, samar, ada bayangan orang-orang. Sebuah keluarga, kelihatannya, berdiri ragu di depan sebuah pagar yang, dari jauh, entah kenapa, bentuknya terasa familiar. Mereka berhenti sebentar. Salah satu dari mereka, yang paling kecil, menggenggam erat tangan yang lebih besar di sampingnya.