RUMAH PENINGGALAN BELANDA

Embart nugroho
Chapter #1

PROLOG

1960, Dua belas obor menyala serentak, seolah-olah ada tangan tak kasatmata yang memberi aba-aba dari perut malam. Api menjilat udara dingin, mendesis liar saat minyak tanah merembes turun menyusuri bambu-bambu kuning yang kering. Bau sangitnya merayap pelan, bercampur dengan aroma tanah basah dan keringat manusia. Malam yang tadi membeku kini seperti direbus dalam kawah menyala—panas, pengap, dan mencekik.

Cahaya obor membentuk lingkaran sempurna. Sebuah arena. Sebuah panggung untuk sesuatu yang tak seharusnya disaksikan manusia. Bayangan mereka memanjang di tanah, saling bertumpuk dan berpilin seperti ular-ular hitam yang kelaparan. Di antara semburat api yang bergetar, wajah-wajah itu tampak berubah—menyeringai, mencibir, memamerkan gigi yang berkilat basah oleh liur.

Suara mereka berdesakan di udara. Berceloteh, mencemooh, berteriak-teriak dengan nada serak yang tak lagi terdengar manusiawi. Mereka berkeciap seperti burung gagak yang berebut bangkai; suara parau, rakus, tak sabar menunggu daging disobek. Kata-kata yang meluncur dari mulut mereka bukan lagi bahasa—melainkan kutukan. Makian. Tawa pendek yang patah di tenggorokan, terdengar seperti ranting kering dipatahkan perlahan.

Wajah-wajah itu beringas. Mata mereka menyala, memantulkan api dengan kilatan buas. Ada yang menyeringai dengan bibir terkatup rapat, ada yang membuka mulut lebar-lebar seolah ingin menelan malam bulat-bulat. Tatapan mereka tajam, seperti anjing kelaparan yang telah mencium aroma darah. Mereka tidak lagi berdiri sebagai manusia. Ada sesuatu yang merasuki kerumunan itu—sesuatu yang membuat napas mereka memburu dan dada mereka naik turun dengan gelora yang mengerikan.

Di tengah lingkaran, di atas rerumputan yang menghitam oleh embun dan lumpur, tergeletak seonggok daging.

Tubuh itu tak lagi utuh dalam martabatnya sebagai manusia. Ia hanya sebentuk bayangan pucat yang gemetar. Rambutnya menutup sebagian wajah, melekat oleh keringat dan tanah. Pakaian yang dikenakannya koyak di sana-sini, memperlihatkan kulit yang memar kebiruan. Napasnya tersengal, terputus-putus seperti lilin yang hampir padam.

Setiap kali tubuh itu bergerak—sekadar menggeliat atau mencoba bangkit—lingkaran api mengecil. Langkah-langkah berat mendekat. Rumput berderak terinjak. Tanah tergerus oleh ujung-ujung sandal dan sepatu. Seseorang meludah. Seseorang tertawa panjang, suaranya melengking dan retak, membuat bulu kuduk berdiri.

Api berderak lebih keras, seakan ikut bersorak.

Dan di antara wajah-wajah bengis itu, ada satu yang paling sunyi. Ia tidak berteriak. Tidak memaki. Ia hanya menatap, tanpa berkedip. Tatapannya kosong, namun justru itulah yang paling menakutkan—seperti lubang sumur tua yang tak pernah disentuh cahaya.

Angin malam berembus pelan, namun tak mampu memadamkan obor. Api justru menari makin liar, menciptakan bayangan yang bergerak sendiri di tanah—bayangan yang tidak selalu sejalan dengan tubuh pemiliknya.

Jeritan pertama akhirnya pecah.

Pendek. Serak. Penuh ketakutan yang mentah. Dan malam menelannya bulat-bulat, seolah tak pernah ada.

Ia seorang perempuan baya—dukun beranak yang dulu dipanggil dengan hormat setiap kali tangis bayi memecah dini hari. Kini rambutnya kusut, memutih tak terurus, menggantung di pelipis seperti benang-benang usang yang tak lagi disisir waktu. Pakaian yang melekat di tubuhnya kumal dan kusam, robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit keriput yang bergetar oleh dingin dan ketakutan.

Entah sudah berapa lama ia berada di tempat itu. Waktu seperti kehilangan makna. Malam terasa terlalu panjang, seolah tak pernah benar-benar bergerak menuju pagi. Tempat itu—sebuah lapangan kosong di pinggir hutan—menganga seperti rahang raksasa. Gelapnya tidak sekadar hitam; ia hidup, berdenyut, dan berbisik lirih di sela desir angin.

Ia tak mengerti.

Mengapa tangan-tangan yang dulu menyambutnya kini mendorong dan menyeretnya seperti bangkai hewan. Mengapa mata-mata yang pernah memohon pertolongannya kini menyala penuh benci. Ia tak tahu dosa apa yang dituduhkan, selain bisik-bisik tentang santet, tentang bayi yang lahir mati, tentang penyakit yang tak tersembuhkan.

Mereka meletakkan tubuhnya di atas sebuah kayu besar yang tergeletak di tanah—balok tua yang kasar, dipenuhi bekas sayatan dan lubang kecil yang tampak seperti mulut-mulut bisu. Di tengah kayu itu terdapat dua celah sempit. Lubang-lubang itu menunggu.

Dua lelaki mengangkat kakinya. Ia meronta. Tulang-tulangnya berderak, sendinya terasa hampir terlepas. Namun tangan-tangan itu terlalu banyak, terlalu kuat, terlalu tega.

Kakinya dimasukkan ke dalam dua lubang itu.

Kayu lain ditindihkan di atasnya.

Terkunci.

Suara “klik” kayu yang saling menghimpit terdengar pelan, namun di telinganya, bunyi itu seperti palu godam yang memukul nisan. Ia mencoba menarik kakinya, tapi yang terasa hanya nyeri yang menjalar sampai ke ubun-ubun. Dagingnya terjepit, kulitnya tergores serpihan kayu kasar. Darah tipis merembes, menghangatkan permukaan kayu yang dingin.

Ia memberontak.

Tubuhnya menggeliat seperti ikan yang dilempar ke darat. Tangan-tangannya mencengkeram tanah, kuku-kukunya dipenuhi lumpur. Tapi tak seorang pun peduli. Sorak-sorai dan makian justru mengeras, menggelegar di atas kepalanya seperti petir yang tak kunjung pecah.

Lihat selengkapnya