RUMAH PENINGGALAN BELANDA

Embart nugroho
Chapter #2

PINDAH RUMAH

Jakarta, 2015.

Hujan turun seperti sesuatu yang tidak ingin berhenti—seolah langit sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar air. Butir-butirnya mengetuk kaca jendela rumah itu dengan ritme ganjil. Tidak menenangkan. Tidak juga menenangkan.

Di ruang tamu yang luas, lampu gantung berayun pelan, padahal tidak ada angin. Adjidarma duduk tegak di sofa kulit yang mulai retak. Wajahnya kaku, seperti seseorang yang baru saja melihat masa depannya sendiri—dan tidak menyukainya. Di hadapannya, Samanda menggenggam kedua tangannya sendiri, seakan mencoba menahan sesuatu yang tak kasatmata agar tidak keluar dari tubuhnya.

Rumah itu terlalu sunyi untuk ukuran Jakarta. Terlalu sunyi… untuk sebuah keluarga.

“Kita akan pindah ke Medan, Ma.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak ada pengantar. Tidak ada kelembutan. Seperti vonis.

Samanda mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mencari sesuatu di wajah suaminya—harapan, mungkin. Atau kebohongan kecil yang bisa membuat segalanya terasa tidak seburuk ini. Namun tidak ada. Hanya kelelahan.

“Apakah keputusan Papa sudah matang?” suaranya pelan, tapi bergetar.

Adjidarma tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah jendela. Hujan masih turun. Atau mungkin… sesuatu di luar sana sedang mengintip masuk.

“Papa tidak tahu lagi harus bagaimana, Ma…”

Suaranya berat. Terasa seperti diseret dari dalam dada yang penuh sesak.

“Perusahaan sudah habis. Utang ke bank… terus bertambah. Tidak ada yang bisa Papa selamatkan lagi.”

Lampu ruang tamu tiba-tiba meredup.

Sekejap saja. Lalu kembali normal.

Samanda menoleh ke arah lampu. Ada sesuatu yang aneh. Sejak beberapa minggu terakhir, rumah ini terasa… berbeda. Seperti ada yang ikut mendengar setiap percakapan mereka. Atau… menunggu.

“Sebaiknya beri tahu Riri dan Gordy,” lanjut Adjidarma, kali ini tanpa menoleh. “Suruh mereka bersiap. Kita akan pergi secepatnya.”

Samanda mengangguk pelan. Tapi wajahnya tidak tenang.

“Ini pasti berat buat Riri, Pa…”

Adjidarma terdiam. Nama itu menggantung di udara.

Riri.

Anak kedua mereka. Yang sejak kecil selalu merasa ada sesuatu di rumah ini. Yang sering terbangun tengah malam dan berkata—dengan suara lirih—bahwa ada yang berdiri di depan kamarnya. Mengawasinya.

Adjidarma menghela napas panjang.

“Mau bagaimana lagi, Ma…” katanya akhirnya. “Rumah ini juga akan disita.”

 

Mama terlihat prihatin dengan keadaan papa. Ia bangkit dari duduknya dan menuju kamar Riri. Riri masih asyik mendengarkan musik dari bombox-nya, tiba-tiba mendengar ketukan pintu di kamarnya. Ia mengecilkan volume musik dan membuka pintu kamar.

“Ada apa, Ma?” tanyanya setelah pintu dibuka.

Mama mengumbar senyum sekilas, lalu masuk ke kamar Riri. Mama memperhatikan kamar Riri dan perabotan yang ada, kemudian duduk di tepi ranjang.

“Bagaimana sekolahmu, Ri?” tanya mama basa-basi.

“Ya, seperti biasa, Ma. Memangnya ada apa?”

Mama menarik nafas sejenak. Ia tidak mau Riri shock kerna perpindahan mereka.

“Kita akan pindah ke Medan, Ri.” Ucap mama lembut.

“Pindah?” Riri kaget sambil membuat kerutan di dahinya. “Kok pindah sih, Ma? Memangnya ada apa sih? Kok mendadak aja ngajak pindah? Riri nggak mau ah!”

“Ri... keadaan papa dan perusahan papa saat ini kurang baik. Saham-saham papa juga mengalami masalah.”

“Tapi apakah kita harus pindah ke Medan, ma? Apa gak ada kota lain yang dekat dengan Jakarta? Yogyakarta atau Surabaya kek.”

“Ya, karena papa masih punya harta warisan kakekmu di sana.”

“Ugghh...” Riri merengut. “Riri udah nyaman di Jakarta, ma. Medan itu ngga ada apa-apanya dibanding Jakarta.”

“Ri... tolong mengerti keadaan papa. Kalau nanti perusahaan papa sudah mulai membaik, kita kembali lagi ke Jakarta.”

“Uh, sebel!” Riri duduk di atas tempat tidur sambil ngedumel.

“Sudah dong, Sayang... Sekarang kamu kemasi barang-barang kamu ya. Besok pagi-pagi sekali kita udah harus ke bandara.”

“Besok?” Riri membelalakan matanya. “Cepat amat? Ma, tolong dong beri waktu buat Riri.”

“Ini sudah keputusan papa, Ri. Pihak bank akan menyita rumah kita. Dari pada kita diusir dengan tidak terhormat, mending kita pergi lebih dulu.”

“Tapi, Ma...”

“Sudahlah, kamu kemasi aja barang-barangmu. Mama juga mau mengemasi barang-barang mama.” Mama beranjak dari tempat tidur Riri dan keluar dari kamar.

Riri lagi-lagi ngedumel kesal. “Memangnya nggak ada cara lain selain pindah?!”

 

###

 

Riri mengepak semua barang-barangnya dengan malas. Sambil memasukan baju-bajunya ke koper besar, Riri menggerutu kecil. Entah apa maksud papa ngajak pindah segala. Padahal hidup di Medan kan lebih enak dari pada tinggal di kota kecil, masuk desa lagi. Nggak ada tempat hiburan, lapangan basket, kampus bagus dan sarana hiburan lainnya.

‘Ugh, bete banget deh.‘ desah Riri kecil.

Lihat selengkapnya