RUMAH PENINGGALAN BELANDA

Embart nugroho
Chapter #3

MEREKA ADA DIMANA MANA

Malam merayap masuk ke dalam rumah itu tanpa suara. Tidak ada angin. Tidak ada kendaraan yang lewat. Bahkan suara hujan yang tadi sore mengguyur kota Medan seolah lenyap begitu saja—seakan malam memilih untuk datang dalam bentuk yang paling sunyi… dan paling berat.

Di lantai dua, Riri duduk sendiri di sebuah sofa tua yang berderit setiap kali ia bergerak sedikit saja. Lampu gantung di atasnya memancarkan cahaya kekuningan yang redup, seperti hampir mati, namun bertahan entah untuk apa.

Di pangkuannya, sebuah majalah terbuka. Halaman demi halaman ia balik. Namun tidak ada satu kata pun yang benar-benar ia baca. Matanya kosong. Pikirannya tidak berada di sana.

Pelan-pelan, bola matanya terangkat. Menyapu ruangan itu dengan gerakan yang nyaris tak terlihat. Ruangan itu penuh dengan barang-barang antik. Lemari kayu tua dengan ukiran yang mulai pudar. Jam dinding besar yang jarumnya bergerak… terlalu pelan. Dan sebuah piano hitam di sudut ruangan—tertutup debu tipis, namun… entah kenapa terasa seperti baru saja disentuh.

Riri menelan ludah. Sejak kecil, ia tidak pernah benar-benar nyaman di lantai dua rumah ini. Ada sesuatu yang selalu membuatnya merasa… diawasi. Tiba-tiba— Sssssss… Suara itu muncul. Pelan. Mendesis. Seperti napas seseorang… yang terlalu dekat.

Riri membeku. Majalah di tangannya terhenti di udara. Bulu kuduknya berdiri. Ia tidak berani menoleh.

Suara itu kembali terdengar. Lebih jelas. Lebih dekat.

Sssssss…

“Siapa…?” bisiknya lirih.

Tidak ada jawaban.

Namun sesuatu yang lain menjawab.

Ting…

Satu nada piano.

Riri menoleh cepat ke arah sudut ruangan. Piano itu. Tertutup. Tidak ada siapa-siapa di sana. Namun—Ting… ting… tang… Nada-nada itu mulai bermunculan. Tidak beraturan. Tidak memiliki melodi. Seperti jari-jari yang tidak tahu cara bermain… namun memaksa untuk terus menekan tuts-tuts itu.

Riri berdiri perlahan. Kakinya terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menahannya untuk tetap di tempat. Namun rasa penasaran—atau mungkin ketakutan—memaksanya melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Nada piano semakin keras. Membahana di ruangan yang sunyi.

Tiba-tiba—Dua tangan dingin menutup matanya dari belakang. Riri menjerit tertahan. Tubuhnya kaku. Napasnya tercekat.

“Siapa…?” suaranya gemetar.

Tangan itu tidak menjawab.

Dingin.

Lembab. Dan… terlalu kurus untuk ukuran tangan manusia.

Riri mencoba mengingat.

Mama?

Tidak mungkin. Mama tidak pernah naik ke lantai dua sendirian.

Gordy?

Tidak. Tangan ini… terlalu kecil. Pelan, ia menyentuh tangan yang menutup matanya. Kulitnya kasar. Seperti… kulit yang sudah lama tidak hidup.

Jantung Riri berdegup liar.

“Kak Gordy, ya?” ia mencoba menebak, suaranya dipaksakan terdengar ringan.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara napas.

Dekat sekali di telinganya.

Sssssss…

Riri menggigil. Tangannya mulai gemetar hebat.

“Jangan bercanda… ini tidak lucu…”

Tiba-tiba—Suara piano berhenti.

Mendadak.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Lalu…Sebuah bisikan. Tepat di telinganya. Serak. Patah-patah. Seperti suara yang dipaksakan keluar dari tenggorokan yang sudah lama membusuk.

“Aku… sudah… lama… di sini…”

Riri membeku. Seluruh tubuhnya seperti kehilangan nyawa.

Perlahan… Sangat perlahan… Tangan yang menutup matanya mulai terbuka. Cahaya redup kembali masuk. Namun sebelum Riri sempat berbalik—Ia melihat bayangan.

Di lantai. Bayangan seseorang… yang berdiri tepat di belakangnya. Kepalanya miring. Tidak wajar. Terlalu miring. Seolah tulangnya… tidak lagi utuh. Dan ketika Riri memberanikan diri untuk menoleh—Tidak ada siapa-siapa.

Piano diam.

Ruangan kembali kosong. Namun di atas tuts piano— Terlihat bekas jari.

Basah. Seperti… bekas sesuatu yang tidak seharusnya meninggalkan jejak.

Riri mundur perlahan. Napasnya terengah. Dan untuk pertama kalinya malam itu—Ia menyadari satu hal. Mereka belum pindah. Tapi… Mungkin… Mereka sudah tidak sendiri lagi di rumah ini.

Riri melangkah pelan menuju ruangan di sebelah—ruangan tempat piano itu berada. Langkahnya ragu. Seolah setiap inci lantai menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia ganggu. Ia berhenti di ambang pintu. Napasnya tertahan. Matanya menyapu seluruh ruangan.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Piano hitam itu berdiri diam di sudut ruangan, tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda baru saja dimainkan. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Seolah semua yang barusan terjadi… hanyalah sesuatu yang lahir dari pikirannya sendiri. Namun justru itulah yang membuatnya semakin takut.

Lengan Riri perlahan merinding. Perasaannya tidak tenang. Ada sesuatu yang tidak pas. Sesuatu yang… salah. Tiba-tiba—

Krieeettt…

Suara pintu di belakangnya mendecit.

Perlahan.

Sangat perlahan. Seperti didorong oleh tangan yang tidak terlihat.

Riri tersentak. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dadanya tanpa ampun. Ia menoleh cepat.

Pintu itu… terbuka sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya lorong panjang yang gelap… dan sunyi.

“Cukup…”

Riri berbisik pelan, suaranya hampir hilang.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan bergegas keluar dari ruangan itu. Langkahnya cepat, nyaris berlari. Ia menuruni tangga dengan napas tersengal, tangannya gemetar memegang pegangan kayu.

Begitu sampai di ruang tamu—Semuanya terasa… normal. Terlalu normal.

Gordy duduk santai di sofa, bercengkrama bersama papa dan mama. Lampu terang. Suara televisi menyala pelan. Tidak ada jejak ketegangan. Tidak ada keanehan. Seolah rumah itu tidak menyimpan apa pun.

Riri tertegun.

Bingung.

Ia mempercepat langkah menghampiri mereka.

“Kamu kenapa?” tanya Gordy, alisnya berkerut melihat wajah Riri yang pucat seperti kehilangan darah.

“Kak Gordy…” suara Riri pelan, hampir putus. “Dari tadi… di sini aja?”

“Iya,” jawab Gordy santai. “Ngobrol sama mama. Emang kenapa?”

Riri terdiam sejenak. Dadanya naik turun. Pikirannya berantakan.

“Em… nggak ada apa-apa,” katanya akhirnya, memaksakan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. “Cuma nanya.”

Namun kegelisahan itu tidak bisa ia sembunyikan.

Ia mendekat. Lebih dekat. Setengah berbisik di telinga Gordy.

“Tadi… ada yang nutup mata Riri,” ucapnya lirih. “Riri kira kak Gordy…”

Gordy mengernyit.

“Lah… yang nutup mata Riri siapa?”

“Makanya…” suara Riri bergetar. “Siapa…?”

Gordy terkekeh pelan, mencoba menganggapnya lelucon.

“Ah, yang bener aja. Kakak dari tadi di sini kok. Kamu jangan ngada-ngada deh.”

Riri menggeleng cepat.

“Suer! Riri takut, Kak…”

Untuk sesaat, Gordy menatap adiknya lebih lama. Ada sesuatu di mata Riri. Ketakutan yang… tidak dibuat-buat. Namun ia tetap menghela napas.

“Udah… jangan mikir yang aneh-aneh,” katanya akhirnya. “Udah malem. Tidur gih.”

“Ugh, Kak Gordy…” Riri meraih lengan kakaknya. “Temenin Riri dong di atas…”

Gordy menghela napas, setengah kesal, setengah kasihan.

“Iya, iya…”

Ia bangkit dari duduknya.

“Gordy ke kamar dulu, Ma, Pa.”

Papa hanya mengangguk tanpa menoleh, matanya tetap terpaku pada majalah bisnis di tangannya. Wajahnya dingin, tenggelam dalam angka-angka dan kerugian.

Mama juga tidak menoleh. Matanya terpaku pada televisi. Cahaya layar berkedip-kedip di wajahnya—membuat ekspresinya terlihat aneh… hampir seperti bukan dirinya.

Lihat selengkapnya