RUMAH PENINGGALAN BELANDA

Embart nugroho
Chapter #4

SEKOLAH BARU

Sehabis mandi, tubuh Riri terasa lebih ringan. Air dingin tadi seolah menghapus sisa-sisa ketegangan yang menempel sejak pagi. Ia melangkah pelan menuju jendela kamarnya, rambutnya masih basah, meneteskan air ke lantai kayu yang dingin.

Ia membuka sedikit tirai.

Halaman belakang terlihat jelas dari sana. Liar. Pohon-pohon tumbuh tidak beraturan, semak-semak menjalar seperti tidak pernah disentuh manusia. Tanahnya gelap, lembap, dan tampak lebih dalam dari seharusnya. Seperti… menyimpan sesuatu. Namun—Tiba-tiba—Wangi bunga melati menyeruak masuk.

Lembut.

Menenangkan.

Riri menarik napas dalam-dalam.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Wangi itu terasa… anehnya familiar. Seperti pernah ia cium. Entah di mana.

Matanya terpejam sesaat, menikmati kesegaran itu. Namun—Dalam hitungan detik—Aroma itu berubah.

Perlahan.

Halus.

Lalu menusuk. Menjadi bau amis.

Pekat.

Busuk.

Seperti daging yang membusuk di tempat tertutup selama berhari-hari.

Riri membuka mata. Wajahnya langsung berubah. Pucat. Perutnya bergejolak.

“Uh…”

Ia menutup mulutnya. Namun rasa mual itu datang begitu cepat. Terlalu cepat.

Ia mundur satu langkah, hampir tersandung karpet. Bau itu semakin kuat. Seolah… bukan dari luar. Melainkan dari dalam kamar itu sendiri.

Riri tidak tahan lagi. Ia berbalik dan buru-buru keluar kamar, menuruni tangga dengan langkah terburu-buru, menahan muntah yang sudah naik ke tenggorokan.

Ruang makan.

Lampu terang.

Suara piring dan sendok.

Normal.

Semua terasa kontras.

Papa dan mama sudah duduk di meja makan. Gordy di samping mereka. Mereka semua menoleh saat Riri datang. Dan seketika—Wajah-wajah itu berubah.

“Kamu kenapa, Ri?” tanya mama, alisnya berkerut.

Riri tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi dan duduk cepat. Tangannya gemetar.

“Mmm… nggak apa-apa kok, Ma…”

“Kok wajah kamu pucat?” mama semakin khawatir.

Riri menelan ludah. Matanya sempat melirik ke arah pintu belakang. Tertutup. Namun—Entah kenapa… Ia merasa sesuatu dari luar sana… ikut masuk bersamanya.

“Nggak apa-apa kok, Ma…” suaranya pelan. “Riri cuma… mencium bangkai di halaman belakang.”

“Bangkai?” mama mengernyit. “Bangkai apa? Kamu ini ada-ada saja.”

“Bangkai tikus kali, Ma,” celetuk Gordy ringan, mencoba mencairkan suasana.

Riri menunduk. Tangannya mengepal di bawah meja. Ia tahu. Itu bukan tikus.

“Hhh, kamu ngejutin mama aja, Ri,” lanjut mama, mencoba tersenyum.

“Sudah-sudah, jangan diributi,” potong papa dengan nada datar. “Masalah bangkai tikus aja mesti diomongi di meja makan.”

Pisau di tangannya memotong steak dengan tenang.

Ceklek.

Daging itu terbelah.

Merah.

Sedikit terlalu merah.

“Maaf deh, Pa. Habis Riri bikin mama penasaran aja,” selah mama, masih mencoba menetralkan suasana.

Papa menghela napas.

“Ri, lain kali kalau mau ngomong yang nggak guna itu jangan di meja makan. Pamali, tahu!”

“Iya, deh, Pa… Riri minta maaf…”

Suara Riri mengecil. Hampir tidak terdengar. Ia menunduk. Menatap piringnya. Steak itu masih utuh. Tidak tersentuh. Pisau dan garpu di tangannya bergetar halus. Lalu—Perlahan—Bau itu kembali.

Amis.

Lihat selengkapnya