RUMAH PENINGGALAN BELANDA

Embart nugroho
Chapter #5

DI SEKOLAH

Pagi datang… dengan rasa yang sama. Sunyi yang tidak hangat. Cahaya matahari menembus ventilasi kamar Riri, membelah ruangan dengan garis-garis terang yang tampak dingin, tidak seperti pagi pada umumnya. Debu-debu kecil melayang di udara, berputar pelan… seolah tidak pernah benar-benar jatuh ke lantai.

Riri membuka mata dengan malas. Tubuhnya terasa berat, seperti tidak benar-benar beristirahat semalaman. Ia menatap langit-langit. Bintang-bintang itu masih ada. Namun entah kenapa… jumlahnya terasa bertambah.

“Ririii…”

Suara mama terdengar dari balik pintu.

Riri menghela napas panjang, lalu bangkit dengan enggan. Kakinya diseret pelan menuju pintu.

“Iya, Maa…”

Ia membuka pintu. Mama berdiri di sana, dengan senyum yang dipaksakan.

“Ada apa sih, Ma?” tanya Riri datar.

“Kamu nggak ke sekolah?”

“Iya… sebentar lagi.”

Riri kembali ke dalam kamar. Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu mulai merapikan selimut dengan gerakan malas. Mama ikut masuk, tangannya membantu meluruskan seprai yang kusut.

“Kamu kenapa sih, Ri… bawaannya kesel melulu,” tanya mama pelan.

Riri mendengus.

“Riri bete, Ma… tinggal di tempat seperti ini. Sepi… nggak ada apa-apa.”

Mama tersenyum tipis.

“Sudahlah, sayang. Itu karena kamu masih baru di sini. Lama-lama juga kamu betah.”

Riri manyun. Matanya melirik ke arah sudut kamar. Lukisan itu. Hari ini… warnanya tampak lebih gelap.

“Besok papa dan mama mau menyelesaikan urusan tanah di Jakarta,” lanjut mama santai. “Jadi kamu dan kakak kamu… jaga rumah, ya.”

Riri langsung menoleh cepat.

“Apa?”

Nada suaranya meninggi.

“Papa dan mama mau pergi? Terus ninggalin Riri sama Kak Gordy… di tempat kayak gini?”

Ada sesuatu di matanya. Bukan sekadar kesal. Takut.

Mama menghela napas.

“Mama cuma sebentar kok, Ri. Nggak lama-lama.”

“Iya… tapi bagi Riri sehari itu kayak setahun, Ma…”

Riri menunduk. Tangannya mencengkeram ujung selimut. Ia tidak berani bilang yang sebenarnya. Bahwa semalam saja… terasa seperti tidak akan pernah selesai.

“Jangan begitu dong, Ri,” bujuk mama lagi. “Mama pergi juga untuk urusan keluarga. Kalau mama dan papa nggak hadir, nanti tanah kita bisa hilang.”

“Tanah lagi… tanah lagi…” Riri bergumam kesal. “Papa sama mama sibuk ngurusin tanah terus. Gimana sama Riri, Ma? Riri bosan… dan…” ia berhenti.

Mama menatapnya.

“Dan apa?”

Riri menggeleng cepat.

“Nggak apa-apa.”

Ia tidak berani melanjutkan. Tidak berani bilang—Bahwa rumah ini… tidak kosong.

Mama tersenyum, lalu mengusap kepala Riri.

“Kamu kan sudah gede. Mama janji, setelah urusan ini selesai… mama nggak akan pergi-pergi lagi.”

Riri tidak menjawab. Ia hanya diam. Namun matanya perlahan bergerak… Ke arah jam dinding. Jarumnya—Berhenti lagi. Tepat di angka dua.

“Ya sudah,” kata mama sambil berdiri. “Kamu mandi dulu sana. Nanti terlambat ke sekolah.”

Riri mengangguk pelan. Ia berdiri, meraih handuk di gantungan, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah berat.

Mama keluar dari kamar.

Pintu ditutup.

Klek.

Sunyi kembali.

Riri berhenti sejenak di depan pintu kamar mandi. Ia menoleh ke arah cermin besar di kamarnya. Pantulannya terlihat. Normal. Namun—Saat ia hendak masuk—Pantulan itu… tidak bergerak.

Riri membeku. Napasnya tertahan. Ia menatap cermin itu. Dan dalam hitungan detik—Pantulan dirinya perlahan… tersenyum. Padahal—Riri tidak. Lalu—

Tok… tok… tok…

Suara dari dalam kamar mandi.

Padahal… Belum ada siapa-siapa di dalam sana.

Di dalam kamar mandi, udara terasa lebih dingin dari biasanya.

Riri berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri sesaat sebelum membuka baju. Ia mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman yang sejak tadi menempel di dadanya. Satu helaan napas. Ia mengganti bajunya dengan basahan. Lalu—Cess… cess…

Suara gemericik air. Dari arah wastafel. Riri membeku. Dahinya berkerut. Air itu tidak hanya mengalir… tapi seperti dibuka perlahan. Seolah ada tangan yang memutar kerannya dengan sengaja. Padahal—Ia belum menyentuh apa pun.

Riri menoleh pelan. Matanya tertuju ke arah tirai yang membentang, memisahkan area shower dan wastafel.

Suara itu terus terdengar.

Cess… cess… cess…

Tidak wajar.

Tidak stabil. Seperti… seseorang sedang memainkan air.

Tangannya mulai gemetar. Pelan-pelan, ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Napasnya semakin berat. Dengan ujung jari yang dingin, ia meraih tirai itu. Diam sejenak. Lalu—Perlahan… Ia menyibakkannya ke samping.

Srek…

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa. Wastafel kering. Tidak ada air yang mengalir. Dan dalam sekejap—Suara itu berhenti.

Hening.

Seolah tidak pernah ada apa-apa.

Jantung Riri langsung bergemuruh. Lebih keras dari sebelumnya. Ia mundur satu langkah. Matanya menyapu ruangan itu lagi.

Kosong.

Tapi… terasa penuh.

Tanpa berpikir panjang, Riri segera membasuh wajahnya. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tidak memberikan ketenangan sedikit pun. Ia mengguyur tubuhnya secepat mungkin.

Tanpa sabun.

Tanpa sampo.

Hanya ingin keluar.

Segera.

Sekarang.

Ia meraih handuk, membungkus tubuhnya asal-asalan, lalu berhambur keluar dari kamar mandi. Napasnya terengah. Tubuhnya gemetar. Ia berhenti di tengah kamar. Berusaha menenangkan diri. Namun—

Kreeeekkk…

Suara itu terdengar jelas.

Pintu kamar mandi. Perlahan… terbuka sendiri.

Riri menoleh. Matanya membulat.

Lihat selengkapnya