Kirana turun dari bus terakhir di terminal Wonoasri ketika langit sudah berwarna abu tua, warna yang selalu ia kaitkan dengan kota ini—warna sebelum hujan, warna menunggu. Ia tidak membawa banyak barang. Satu ransel, satu koper kecil beroda dua yang salah satunya sudah patah sejak di Jakarta, dan map cokelat berisi surat-surat yang dikirim notaris dua minggu lalu.
Almarhumah Wuryaning Prawesti (Ibu Mawar), telah berpulang pada 14 Februari, meninggalkan harta berupa satu bidang tanah dan bangunan di Jalan Kenanga No. 9, Wonoasri, kepada kedua cucunya, Kirana Adiratna dan Damar Adiratna, dengan pembagian yang sama rata.
Ia sudah membaca kalimat itu berkali-kali di dalam bus, seolah dengan membacanya lagi ia bisa membuatnya terasa lebih nyata, atau justru sebaliknya, membuatnya terasa seperti fiksi yang bisa ia tutup begitu sampai halaman terakhir.
Neneknya sudah delapan puluh tiga tahun ketika meninggal. Bukan usia yang mengejutkan untuk berpulang. Yang mengejutkan adalah betapa Kirana, di usia tiga puluh dua, baru menyadari bahwa selama dua belas tahun terakhir ia hanya menelepon Nenek Mawar empat kali setahun—Lebaran, ulang tahun nenek, ulang tahun sendiri jika sempat, dan malam pergantian tahun jika sinyal telepon sedang berbaik hati.
Ia naik ojek dari terminal. Supirnya, seorang bapak berjaket lusuh yang lengannya penuh keriput, sempat bertanya, "Mau ke Kenanga, Mbak? Rumah Bu Mawar itu, ya?"
"Iya, Pak. Tahu?"
"Semua orang di sini tahu rumah itu," katanya sambil menyalakan motor. "Kebunnya itu lho, Mbak. Aneh-aneh gitu katanya. Saya sendiri nggak pernah masuk. Tapi anak saya dulu suka lewat situ, katanya kalau lagi ada yang berantem di rumah itu, bunganya layu semua dalam semalam. Kalau lagi damai, subur luar biasa. Nggak tahu itu betulan atau cuma omongan orang kampung."
Kirana tersenyum tipis, senyum yang biasa ia pakai untuk cerita-cerita semacam itu—cerita yang dulu, waktu kecil, ia percaya sepenuh hati, dan sekarang ia anggap sebagai bagian dari mitologi keluarga yang menyenangkan untuk didengar tapi konyol untuk dipercaya oleh orang dewasa yang sudah dua belas tahun tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai auditor.
Tapi ia ingat. Ia ingat kebun itu.
Ia ingat, waktu umur delapan tahun, sehari setelah ayahnya pergi dan tak pernah kembali, ia berdiri di teras belakang dan melihat mawar-mawar nenek—yang biasanya begitu lebat sampai memenuhi seluruh pagar bambu—layu serentak, seperti seseorang mematikan lampu di banyak ruangan sekaligus. Nenek Mawar waktu itu hanya menghela napas panjang, memetik satu kuntum yang masih bertahan, dan berkata, "Rumah ini sedih juga, Nak. Biarkan saja. Nanti tumbuh lagi kalau kita sudah nggak sedih lagi."
Kirana tidak pernah benar-benar bertanya apakah itu kebetulan cuaca, kebetulan hama, atau memang sesuatu yang lain. Ada hal-hal tentang masa kecil yang lebih baik dibiarkan sebagai kenangan daripada dijadikan pertanyaan.
Motor berbelok ke Jalan Kenanga, jalan sempit beraspal yang di kanan-kirinya berjajar rumah-rumah tua peninggalan zaman kolonial, dengan atap genteng yang sudah menghitam dan pohon-pohon mangga besar yang akarnya menonjol ke jalan. Rumah nomor sembilan ada di ujung, agak menjorok dari jalan, dengan pagar besi tempa yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, membentuk pola yang menyerupai sulur-sulur tanaman.
Ojek berhenti. Kirana membayar, turun, dan berdiri sebentar di depan pagar sebelum membuka gerbangnya.