Malam pertama di rumah Kenanga, Kirana tidur di kamar lamanya, kamar yang oleh nenek dibiarkan seperti apa adanya sejak ia pindah ke Jakarta—seprai bermotif bunga yang mulai pudar warnanya, meja belajar kayu dengan laci yang masih berisi pensil-pensil warna yang sudah pendek-pendek, dan poster band yang ia sukai waktu SMA, yang sudut-sudutnya sudah menguning dan sedikit mengelupas dari dinding.
Ia tidak menyangka nenek menyimpan semuanya. Tidak menyangka, atau tidak pernah benar-benar memikirkannya, karena selama dua belas tahun ia tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana kamar itu—apakah dijadikan gudang, apakah dijadikan kamar tamu, apakah dibongkar sama sekali. Ia hanya mengasumsikan rumah berjalan tanpa dirinya, seperti kebanyakan orang mengasumsikan rumah masa kecil mereka berjalan tanpa kehadiran mereka.
Damar tiba pukul delapan lebih dua puluh, seperti yang ia kabarkan. Kirana mendengar suara taksi berhenti di depan, suara pintu mobil, suara langkah di teras. Ia turun dari kamar dengan jantung berdebar lebih kencang dari yang mau ia akui.
Ketika pintu terbuka, yang berdiri di sana bukan lagi adik laki-laki dua puluh tahun yang meninggalkan rumah ini dengan marah dua belas tahun lalu, tapi seorang pria dua puluh delapan tahun dengan janggut tipis, jaket kulit yang terlihat mahal, dan mata yang—untuk sesaat, sebelum ia menata ekspresinya—terlihat sama terkejutnya melihat Kirana seperti Kirana terkejut melihatnya.
"Kak," katanya, singkat. Bukan pertanyaan, bukan sapaan hangat. Hanya sebuah pengakuan atas fakta bahwa kakaknya ada di sana.
"Damar." Kirana mengangguk. "Kamu bisa masuk."
Kecanggungan di antara mereka bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dalam satu kalimat, atau bahkan satu bab. Itu adalah kecanggungan yang dibangun dari bertahun-tahun ketiadaan komunikasi, dari sebuah insiden yang tidak pernah dibicarakan lagi setelah terjadi, dan dari kenyataan bahwa mereka berdua tumbuh menjadi orang-orang yang sangat berbeda dari anak-anak yang dulu berfoto berdampingan di depan kebun mawar.
Damar meletakkan tasnya di dekat pintu, melihat sekeliling ruang tengah dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya berhenti sebentar di jam kakek, lalu berpindah ke foto-foto di dinding, lalu kembali ke Kirana.
"Masih sama," katanya pelan. "Nggak berubah sama sekali."
"Iya," kata Kirana. "Aku juga kaget."
"Kamu udah makan?"
Pertanyaan itu, sesederhana apa pun, membuat sesuatu di dada Kirana melunak sedikit. Itu pertanyaan yang biasa ditanyakan Damar kecil, dulu, setiap kali Kirana pulang telat dari les atau kegiatan sekolah. Kamu udah makan, Kak? Seolah dalam dua belas tahun terakhir, di balik jaket kulit dan janggut tipis dan mata yang menjaga jarak itu, masih ada anak kecil yang sama.
"Belum," jawab Kirana. "Tadi mau masak tapi kulkasnya kosong."