Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #3

DAMAR

Untuk memahami kenapa Kirana dan Damar tidak bertegur sapa lebih dari dua belas tahun, orang harus kembali ke sebuah malam di bulan Agustus, lima belas tahun lalu, ketika Kirana berusia tujuh belas tahun dan Damar tiga belas.

Malam itu, ayah mereka—Bagaskara, seorang pria yang oleh banyak orang di Wonoasri dikenal sebagai "suaminya Retno yang jarang pulang"—kembali ke rumah setelah tiga bulan menghilang tanpa kabar, mabuk, dan marah tanpa alasan yang jelas kepada siapa pun yang ada di dekatnya.

Kirana, yang sudah lelah bertahun-tahun menjadi penengah antara ayah dan ibunya, antara kemarahan dan ketakutan, mengambil keputusan yang mengubah segalanya: ia menelepon polisi.

Bukan karena kekerasan fisik terjadi malam itu—meski hampir. Tapi karena ia sudah tidak sanggup lagi menunggu sampai itu benar-benar terjadi.

Damar, yang malam itu bersembunyi di kamar bersama Kirana sebelum kakaknya memutuskan menelepon, tidak pernah memaafkan keputusan itu. Bukan karena ia membela ayahnya—Damar tahu, bahkan waktu itu, bahwa ayahnya bukan orang baik. Tapi karena setelah malam itu, ayah mereka pergi dan benar-benar tidak pernah kembali, dan tidak lama setelah itu, ibu mereka juga pergi—meninggalkan Kirana dan Damar di rumah Nenek Mawar, dengan alasan yang tidak pernah dijelaskan dengan jujur sampai sekarang.

Damar yang berusia tiga belas tahun, yang kehilangan kedua orang tuanya dalam rentang waktu kurang dari setahun, menyalahkan Kirana atas semuanya. Kalau kamu nggak nelepon polisi, mungkin semuanya nggak akan seburuk ini, katanya suatu malam, dua tahun setelah kejadian itu, ketika mereka bertengkar hebat tentang hal lain yang sebenarnya tidak penting—remote TV, atau siapa yang lupa mengunci pintu, sesuatu yang sepele yang menjadi pemicu untuk semua yang sebenarnya tidak sepele.

Kirana, yang waktu itu berusia sembilan belas dan baru saja diterima kuliah di Jakarta, tidak pernah membantah tuduhan itu. Sebagian dari dirinya, sampai hari ini, masih bertanya-tanya apakah Damar benar.

Lihat selengkapnya