Minggu pertama di rumah Kenanga berjalan dengan ritme yang aneh—separuh seperti gencatan senjata, separuh seperti dua orang yang belajar kembali bagaimana caranya menjadi keluarga tanpa buku panduan.
Mereka membagi tugas membereskan rumah berdasarkan ruangan: Kirana mengurus dokumen-dokumen di ruang kerja nenek, sementara Damar mengurus dapur dan gudang. Setiap sore mereka bertemu di meja makan, melaporkan temuan masing-masing seperti dua rekan kerja dalam sebuah proyek, bukan seperti kakak-adik yang sedang membereskan sisa hidup nenek mereka sendiri.
Rabu sore, saat Kirana sedang menyortir tumpukan surat lama di laci meja kerja nenek, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak: sebuah amplop coklat, tidak dikirim lewat pos, dengan tulisan tangan nenek di depannya—Untuk Kirana dan Damar, dibuka bersama, kalau sudah waktunya.
Ia menimbang-nimbang amplop itu di tangannya, merasakan ketebalannya, mencoba menerka isinya dari bentuknya. Lalu ia meletakkannya di atas meja, memutuskan untuk menunggu Damar.
Malam itu, setelah makan malam yang sedikit lebih santai dari hari-hari sebelumnya—mereka bahkan sempat tertawa bersama soal video kucing yang ditonton Kirana di ponselnya—Kirana mengeluarkan amplop itu.
"Aku nemu ini tadi siang," katanya, meletakkannya di meja di antara mereka. "Di laci meja kerja Nenek."
Damar membaca tulisan di depan amplop itu, ekspresinya berubah waspada. "Dibuka bareng. Kapan 'sudah waktunya' itu?"
"Nggak tahu. Mungkin sekarang?"
Mereka saling menatap sebentar, seperti dua anak kecil yang diberi mainan baru tapi ragu siapa yang boleh membukanya duluan. Akhirnya Damar mengangguk, dan Kirana merobek amplop itu perlahan.
Di dalamnya ada dua lembar kertas, ditulis tangan dengan tulisan nenek yang khas—huruf-huruf bulat dan rapi, sedikit gemetar di beberapa bagian, tanda usia tua yang mulai mempengaruhi tangannya.
Kirana membacanya keras-keras.
Kirana dan Damar sayang,
Kalau kalian membaca ini, artinya Nenek sudah nggak ada lagi, dan kalian berdua sudah kembali ke rumah ini bersama-sama—sesuatu yang Nenek doakan setiap malam selama bertahun-tahun, tapi nggak pernah cukup berani untuk memaksakan selagi Nenek masih hidup.
Nenek tahu kalian berdua marah satu sama lain. Nenek nggak tahu semua detailnya—kalian berdua nggak pernah cerita, dan Nenek nggak pernah maksa, karena Nenek pikir kalian berhak punya rahasia kalian sendiri. Tapi Nenek tahu ini ada hubungannya dengan malam itu, dan dengan kepergian ayah dan ibu kalian setelahnya.