Mencari alamat itu tidak semudah yang mereka kira. Buku telepon nenek—buku catatan kulit coklat tua yang halamannya sudah menguning—memang memiliki halaman terakhir yang disebutkan dalam surat, tapi tulisan di sana sudah agak pudar, dan alamat yang tertera adalah alamat dari sepuluh tahun lalu, sebuah kompleks perumahan di Semarang yang, ketika mereka telepon nomor yang tertera, ternyata sudah berganti pemilik tiga kali sejak itu.
Butuh waktu empat hari, dan bantuan seorang teman lama Damar yang bekerja di catatan sipil, untuk akhirnya menemukan alamat terbaru Retno—sebuah rumah kecil di pinggiran Semarang, tidak jauh dari alamat lama.
Selama empat hari itu, ada sesuatu yang berubah perlahan di antara Kirana dan Damar—bukan perubahan besar, bukan rekonsiliasi dramatis seperti di film-film, tapi perubahan kecil yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah lama tidak merasakannya: mereka mulai makan malam sambil ngobrol lebih dari sekadar laporan tugas harian. Damar mulai bercerita tentang proyek-proyek interiornya, tentang klien-klien anehnya, dan sekali, tanpa diminta, tentang seorang perempuan bernama Sinta yang baru saja putus dengannya tiga bulan lalu.
Kirana, di gilirannya, bercerita tentang kehidupannya di Jakarta yang, ia sadari sendiri saat menceritakannya, terdengar cukup kosong—bekerja, pulang, tidur, mengulang. Ia tidak punya banyak teman dekat di sana. Ia tidak pernah benar-benar berhasil membangun sesuatu yang terasa seperti "rumah" di kota itu, meski sudah dua belas tahun tinggal di sana.
"Kamu kenapa nggak pernah pulang, Kak?" tanya Damar suatu malam, pertanyaan yang terdengar sederhana tapi Kirana tahu berat maknanya.
"Aku pikir kamu nggak mau aku pulang," jawab Kirana jujur. "Setiap kali aku telepon Nenek dan tanya kabar kamu, Nenek selalu bilang kamu masih... belum siap ketemu aku."
Damar terdiam, menatap piringnya. "Aku emang belum siap. Selama bertahun-tahun. Tapi aku juga nggak pernah bilang kamu nggak boleh pulang."
"Sama aja, Dam."
"Nggak sama," kata Damar, tapi nadanya tidak menuduh, lebih seperti mengoreksi fakta. "Aku cuma nggak siap. Kamu yang milih nggak pulang."
Kirana tidak membantah. Karena, jauh di dalam hatinya, ia tahu Damar benar. Ia bisa saja pulang kapan pun—untuk Lebaran, untuk ulang tahun nenek, untuk apa pun. Tapi setiap kali ia membayangkan kembali ke rumah ini, ke kota ini, ada sesuatu yang menahannya, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar takut bertemu Damar.