Perjalanan ke Semarang memakan waktu dua setengah jam dengan mobil yang disewa Damar. Sepanjang jalan mereka nyaris tidak bicara, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri, memandangi sawah dan perbukitan yang berganti dengan pemandangan kota yang semakin padat.
Rumah Retno lebih kecil dari yang Kirana bayangkan—sebuah rumah tipe 36 di sebuah kompleks perumahan sederhana, dengan halaman kecil yang ditanami beberapa pot bunga plastik dan satu pohon jambu yang buahnya belum matang. Tidak ada yang mewah, tidak ada tanda-tanda kehidupan baru yang gemerlap seperti yang mungkin dibayangkan Damar selama bertahun-tahun sebagai alasan kepergian ibunya.
Mereka berdiri di depan pagar cukup lama sebelum salah satu dari mereka berani mengetuk.
Pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia awal enam puluhan, rambutnya sudah banyak beruban, wajahnya menua dengan cara yang membuat Kirana harus menatap dua kali untuk meyakinkan diri bahwa ini benar ibunya—ibu yang terakhir kali ia lihat dua belas tahun lalu, masih dengan rambut hitam legam dan wajah yang belum menyerah pada waktu.
Retno berdiri diam di ambang pintu, tangannya mencengkeram kusen pintu seperti mencari pegangan. Matanya berpindah dari Kirana ke Damar, lalu kembali lagi, dan Kirana bisa melihat air mata mulai menggenang di sana sebelum kata pertama diucapkan.
"Kirana," bisiknya. "Damar."
Nama-nama itu keluar seperti sesuatu yang sudah lama ditahan, seperti kata-kata yang ia ucapkan dalam hati setiap hari selama dua belas tahun tapi tidak pernah berani ucapkan keras-keras kepada siapa pun.
"Ibu," kata Kirana, suaranya tercekat.
Damar tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri, rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca meski ia jelas berusaha keras menahannya.
Mereka duduk di ruang tamu kecil Retno, dengan teh yang dibuat tergesa-gesa dan tangan yang gemetar saat menuangkannya. Ada foto-foto di dinding—bukan foto Kirana dan Damar, tapi foto-foto seorang anak lelaki kecil, mungkin berusia enam atau tujuh tahun dalam foto terbaru, tersenyum lebar di berbagai kesempatan.
"Siapa itu?" tanya Damar, suaranya lebih tajam dari yang ia niatkan.
Retno mengikuti arah pandang Damar, dan wajahnya berubah, seperti seseorang yang tertangkap basah menyimpan rahasia yang sudah lama ditahan.
"Itu Bimo," katanya pelan. "Anak dari... dari suami kedua Ibu."