Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #7

KOTAK DI LOTENG

Mereka pulang ke Wonoasri malam itu juga, dengan janji dari Retno untuk berkunjung akhir pekan, dan dengan pelukan canggung di depan pintu yang, meski canggung, adalah pelukan pertama dalam dua belas tahun—Kirana bisa merasakan tubuh ibunya gemetar, bisa mencium wangi sabun yang sama seperti dulu, wangi yang entah kenapa masih tersimpan di suatu tempat dalam ingatannya meski ia sudah lama lupa nama parfumnya.

Sesampainya di rumah, meski sudah larut malam, Damar langsung naik ke loteng dengan senter di tangan. Kirana mengikutinya, jantungnya berdebar dengan campuran harapan dan takut.

Loteng rumah Kenanga adalah ruang yang jarang mereka masuki sejak kecil—gelap, berdebu, penuh dengan kotak-kotak dan perabot lama yang tidak lagi digunakan tapi tidak pernah dibuang, sesuai dengan kebiasaan orang tua zaman dulu yang percaya segala sesuatu punya nilai suatu hari nanti.

Mereka menemukan kotak itu di sudut, di bawah tumpukan baju lama—sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga di tutupnya, terkunci dengan gembok kecil yang sudah berkarat.

"Ada kuncinya nggak?" tanya Damar, mengguncang kotak itu pelan, mendengar suara kertas-kertas di dalamnya bergeser.

Kirana berpikir sejenak, lalu teringat sesuatu. "Kalung Nenek. Dia selalu pakai kalung dengan liontin kecil, aku selalu pikir itu cuma perhiasan biasa."

Mereka turun kembali, mencari kotak perhiasan nenek yang tersimpan di kamarnya, dan menemukan kalung itu—liontin kecil berbentuk bunga mawar yang, ketika dibuka dengan hati-hati, ternyata menyimpan sebuah kunci mini di dalamnya.

Kunci itu pas dengan gembok kotak kayu di loteng.

Di dalamnya, mereka menemukan puluhan surat—beberapa masih dalam amplop tertutup, beberapa sudah terbuka dan dibaca (mungkin oleh nenek sendiri, memeriksa isinya sebelum memutuskan untuk tidak memberikannya), semua ditulis tangan dengan tulisan yang sama seperti yang baru saja mereka lihat di rumah Retno—tulisan ibu mereka.

Tanggal-tanggal di amplop itu terentang dari dua belas tahun lalu sampai tiga tahun lalu, ketika mungkin Retno akhirnya berhenti berharap dan berhenti menulis.

Lihat selengkapnya