Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #8

YANG TAK PERNAH DIUCAPKAN

Keesokan paginya, kebun di belakang rumah tampak sedikit lebih segar—tidak sepenuhnya pulih, tapi tidak selayu dua hari sebelumnya. Kirana memperhatikan itu ketika ia membawa kopinya ke teras belakang, dan menemukan Damar sudah duduk di sana, menatap kebun dengan tatapan yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya—lebih tenang, meski masih menyimpan kelelahan dari semalam.

"Nggak bisa tidur?" tanya Kirana, duduk di sebelahnya.

"Kepikiran terus," kata Damar. "Semua surat itu. Dan... hal lain juga."

"Hal lain apa?"

Damar menghela napas panjang, seperti mengumpulkan keberanian yang sudah lama ia tunda—keberanian yang mungkin, tanpa surat-surat semalam, tanpa pertemuan dengan Retno, tidak akan pernah ia temukan.

"Kak," katanya akhirnya. "Aku pengen minta maaf. Bukan cuma soal kemarin, atau soal dua belas tahun ini. Tapi soal malam itu. Malam kamu nelepon polisi."

Kirana menahan napas.

Lihat selengkapnya