Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #9

MALAM HUJAN

Retno datang berkunjung ke rumah Kenanga di akhir pekan, seperti yang ia janjikan. Kedatangannya membawa kecanggungan baru yang berbeda dari kecanggungan awal antara Kirana dan Damar—kecanggungan seorang ibu yang tidak yakin apakah ia masih berhak dipanggil demikian, dan dua anak yang belajar kembali bagaimana caranya memiliki seorang ibu setelah dua belas tahun tanpa satu pun.

Ia datang sendirian, tanpa Bimo atau anak lelakinya, "Karena Ibu pikir kalian berdua dulu yang harus diprioritaskan," katanya ketika Kirana bertanya, "sebelum Ibu berani perkenalkan yang lain."

Sore itu hujan turun, hujan pertama sejak Kirana kembali ke Wonoasri, hujan deras yang membuat suara berisik di atap seng dapur dan aroma tanah basah yang memenuhi seluruh rumah.

Mereka bertiga duduk di ruang tengah, di dekat jam kakek yang kini berdetak normal, tanpa dentingan aneh sejak pagi hari mereka berpelukan di teras. Kirana menuangkan teh untuk mereka bertiga, dan untuk sesaat, sebelum ada yang berkata apa-apa, ada momen aneh di mana ketiganya hanya duduk mendengarkan suara hujan, seolah mengumpulkan keberanian masing-masing untuk mulai bicara.

"Ibu bawa ini," kata Retno akhirnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya—bukan kotak kayu yang mereka temukan di loteng, tapi kotak lain, lebih kecil, terbuat dari kain beludru. "Ibu simpan ini selama dua belas tahun, nunggu waktu yang tepat buat kasih ke kalian."

Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya ada dua liontin kecil, identik dengan bentuk daun kenanga, masing-masing dengan foto mini di dalamnya—satu foto Kirana kecil, satu foto Damar kecil, keduanya diambil dari foto keluarga yang sama seperti yang tergantung di dinding ruang tengah.

"Ibu beli ini tepat sebelum semuanya terjadi," kata Retno, suaranya bergetar. "Rencananya buat ulang tahun kalian tahun itu. Ibu nggak pernah sempat kasih. Terus... terus Ibu simpan aja, sambil berharap suatu hari Ibu bisa kasih langsung."

Kirana menerima liontinnya dengan tangan gemetar, membuka kuncinya perlahan, melihat foto kecil dirinya di usia lima tahun, tersenyum lebar dengan pita di rambutnya.

Lihat selengkapnya