Dua minggu berlalu sejak kedatangan Retno di rumah Kenanga, dan rumah itu perlahan berubah ritmenya—bukan lagi rumah kosong yang sedang dibereskan untuk dijual, tapi rumah yang mulai terasa dihuni lagi, dengan cara yang tidak pernah Kirana bayangkan akan terjadi ketika ia pertama kali turun dari bus di terminal Wonoasri.
Damar memutuskan menunda kepulangannya ke Semarang, mengambil cuti panjang dari proyek-proyeknya, dengan alasan "biar bisa beresin rumah bareng-bareng sampai tuntas"—alasan yang, keduanya tahu tanpa perlu diucapkan, hanyalah setengah dari kebenaran. Kebenaran yang lain adalah bahwa keduanya belum siap berpisah lagi, tidak setelah baru saja menemukan jalan kembali satu sama lain.
Mereka mulai merapikan rumah dengan cara yang berbeda dari minggu-minggu awal—bukan lagi membereskan untuk menjual, tapi membereskan seolah rumah itu akan tetap menjadi milik mereka untuk waktu yang lama. Kirana mulai menghubungi kantornya di Jakarta, mengajukan kerja jarak jauh sebagian waktu, sesuatu yang tidak pernah ia pertimbangkan sebelumnya tapi sekarang terasa masuk akal—ia bisa audit dari mana saja, selama koneksi internet cukup baik, dan Wonoasri, meski kota kecil, punya koneksi yang cukup memadai.
"Kamu serius mau pindah balik ke sini?" tanya Damar suatu sore, ketika mereka berdua sedang mengecat ulang pagar besi tempa di depan rumah, cat baru berwarna hijau tua menggantikan cat lama yang sudah mengelupas.
"Belum tentu pindah total," kata Kirana, mengoleskan kuas dengan hati-hati di sela-sela ukiran besi. "Tapi aku pikir aku pengen lebih sering di sini. Nggak cuma numpang lewat kayak dua belas tahun ini."
"Aku juga kepikiran gitu," kata Damar. "Wonoasri sebenernya nggak terlalu jauh dari Semarang. Aku bisa bolak-balik buat proyek-proyek gede, terus base di sini aja."
Mereka melanjutkan mengecat dalam diam yang nyaman, diam yang sudah jauh berbeda dari diam canggung minggu-minggu pertama.