Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #11

SEMAI

Akhir pekan berikutnya, Retno datang lagi, kali ini benar-benar membawa Bimo, anak lelaki berusia tujuh tahun dengan mata besar yang penuh rasa ingin tahu, memegang tangan ibunya erat-erat sambil menatap Kirana dan Damar dengan campuran malu dan penasaran.

"Ini kakak-kakakmu," kata Retno lembut, berjongkok di samping Bimo. "Kakak Kirana sama Kakak Damar."

Bimo menatap mereka berdua bergantian, lalu bertanya dengan polos, "Kenapa aku baru ketemu sekarang?"

Pertanyaan sederhana itu membuat ketiga orang dewasa di ruangan itu terdiam sejenak, sebelum Damar—yang mengejutkan Kirana—berjongkok di depan Bimo dan menjawab dengan nada seringan mungkin, "Karena Kakak sama Kakak Kirana tinggal jauh, di kota lain. Tapi sekarang kita udah ketemu, jadi mulai sekarang kita bisa main bareng, gimana?"

Bimo tersenyum lebar, rasa canggungnya mencair secepat itu, seperti anak-anak pada umumnya yang belum belajar menyimpan luka selama bertahun-tahun seperti orang dewasa. "Kakak Damar bisa main mobil-mobilan?"

"Bisa dong," kata Damar, tertawa, dan untuk sesaat, melihat adiknya bermain dengan Bimo di lantai ruang tengah, Kirana merasakan sesuatu yang hangat menyebar di dadanya—sesuatu yang mirip dengan harapan, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak masa kecilnya sendiri.

Sore itu, sementara Damar dan Bimo bermain di ruang tengah, Kirana mengajak Retno ke kebun belakang, menunjukkan tanaman-tanaman yang mulai mereka rawat kembali sejak kepulangan mereka.

Lihat selengkapnya