Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #12

RUMAH, AKHIRNYA...

Tiga bulan setelah Kirana pertama kali turun dari bus di terminal Wonoasri, batas waktu yang diberikan notaris untuk memutuskan nasib rumah Kenanga akhirnya tiba.

Mereka duduk berdua di ruang kerja nenek, dokumen-dokumen tersebar di meja, siap untuk membuat keputusan resmi.

"Jadi," kata Damar, "kita mau apain rumah ini?"

Kirana menatap sekeliling ruangan—ruang kerja yang kini rapi tersusun, jauh berbeda dari tumpukan kertas berdebu tiga bulan lalu, tapi tetap menyimpan jejak nenek mereka di setiap sudutnya: rak buku yang masih penuh dengan novel-novel lama, foto-foto keluarga yang kini bertambah dengan foto baru—foto mereka berempat, Kirana, Damar, Retno, dan Bimo, diambil di kebun belakang minggu lalu, tersenyum lebar di bawah sinar matahari sore.

"Aku nggak mau jual," kata Kirana. "Aku udah putusin, aku bakal kerja jarak jauh dari sini, minimal untuk beberapa tahun ke depan. Aku pengen rumah ini tetap jadi rumah, bukan properti yang dijual ke orang asing."

"Aku juga," kata Damar. "Aku udah ngomong sama beberapa klien, mereka oke aja kalau aku kerja remote dari sini, dateng ke Semarang atau kota lain cuma pas ada proyek yang butuh kehadiran langsung."

"Jadi kita berdua tinggal di sini bareng?"

Lihat selengkapnya