Dua bulan setelah pertemuan pertama dengan Retno, sebuah mobil sedan putih berhenti di depan rumah Kenanga pada suatu sore yang cerah. Kirana, yang sedang menjemur cucian di halaman samping, melihat seorang perempuan muda turun dari mobil itu, ragu-ragu menatap ke arah pagar sebelum akhirnya melangkah mendekat.
"Permisi," kata perempuan itu. "Ini rumahnya Damar?"
Kirana mengamatinya sejenak—rambut sebahu diikat rapi, kemeja kerja yang masih terlihat baru disetrika, dan raut wajah yang jelas menyimpan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan. "Iya, betul. Kamu... Sinta?"
Mata perempuan itu membelalak kaget. "Kok tahu?"
"Damar pernah cerita," kata Kirana, tersenyum kecil. "Masuk aja, aku panggilin dia."
Damar, yang sedang memperbaiki engsel pintu dapur yang berderit, keluar dengan tangan masih kotor oli, dan begitu melihat Sinta berdiri di ruang tengah, ia berhenti seketika, seperti orang yang baru saja tersengat listrik.
"Sinta," katanya, suaranya agak tercekat. "Ngapain kamu di sini?"