Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #15

FESTIVAL KENANGA

Setiap bulan Juli, warga Jalan Kenanga dan sekitarnya mengadakan festival kecil untuk merayakan hari jadi kampung mereka—tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun, dengan lomba masak, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, dan pasar malam sederhana yang dipenuhi jajanan tradisional.

Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, rumah Kenanga nomor sembilan ikut berpartisipasi—Bu Yanti yang mengusulkan, mengingat kebun rumah itu yang kini kembali subur dan indah, cocok dijadikan salah satu titik kunjungan dalam rangkaian acara "jelajah kebun kampung" yang menjadi acara sampingan festival tahun ini.

Kirana dan Damar sepakat membuka kebun mereka untuk umum selama sehari, dan tanpa mereka duga, respons warga sangat antusias—puluhan orang datang, sebagian penasaran dengan cerita-cerita lama tentang "kebun yang tahu perasaan," sebagian lain sekadar ingin menikmati keindahan taman yang, menurut mereka, adalah salah satu yang terindah di seluruh kampung.

"Kak," bisik Damar di sela-sela menyambut tamu, "kamu sadar nggak, ini kayak... ini kayak rumah ini akhirnya jadi bagian dari kampung lagi. Bukan cuma rumah yang orang-orang omongin dari kejauhan."

Kirana mengangguk, matanya menyapu kerumunan yang berjalan di antara petak-petak bunga, anak-anak kecil yang berlarian riang, orang-orang tua yang duduk di kursi rotan teras sambil bercerita tentang masa lalu rumah itu—cerita-cerita yang, mereka sadari, sebagian benar dan sebagian sudah berkembang menjadi legenda kampung yang dilebih-lebihkan, tapi semuanya penuh kehangatan.

Lihat selengkapnya