Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #16

UJIAN KECIL

Bukan berarti semuanya berjalan mulus tanpa hambatan sejak saat itu. Suatu malam di bulan September, Bimo demam tinggi mendadak, dan Retno yang sedang menginap di rumah Kenanga untuk akhir pekan—kebiasaan yang mulai rutin mereka lakukan sejak beberapa bulan terakhir—panik bukan main.

"Suhunya 39,5," kata Retno, suaranya gemetar, sambil mengompres dahi Bimo yang terbaring lemas di kamar tamu. "Ini udah jam sebelas malam, klinik terdekat udah tutup."

"Ada rumah sakit yang buka 24 jam nggak jauh dari sini," kata Damar, sudah mengambil kunci mobil. "Aku anter sekarang."

Mereka bertiga—Damar, Retno, dan Bimo yang menangis lemah dalam gendongan ibunya—bergegas ke rumah sakit, sementara Kirana tinggal di rumah, menunggu dengan cemas, menyalakan lampu di setiap ruangan seolah cahaya bisa mengusir kekhawatiran yang menggantung di udara.

Malam itu terasa sangat panjang bagi Kirana yang sendirian di rumah, duduk di ruang tengah dekat jam kakek, menatap jarumnya bergerak pelan, mendengarkan setiap detak seolah itu adalah penghitung waktu bagi kabar yang ia tunggu-tunggu.

Pukul satu dini hari, ponselnya berdering. Damar.

Lihat selengkapnya