Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #17

WARUNG KOPI PAK HAR

Di seberang jalan dari rumah Kenanga, agak ke arah pertigaan, ada sebuah warung kopi kecil milik Pak Harjo—dikenal warga sekitar sebagai Pak Har—yang telah berdiri sejak tiga puluh tahun lalu, dengan bangku-bangku kayu panjang dan meja-meja yang penuh coretan inisial dari puluhan tahun pelanggan setianya. Damar mulai mampir ke sana hampir setiap pagi sejak bulan kedua kepulangannya, memesan kopi tubruk dan duduk sebentar sebelum memulai pekerjaannya di studio.

Pak Har, seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan dengan suara serak khas perokok lama, ternyata mengenal keluarga Kirana dan Damar jauh lebih dalam dari yang mereka duga.

"Kakekmu dulu sering ke sini," kata Pak Har suatu pagi, menuangkan kopi ke gelas kaca kecil di depan Damar. "Kakek buyutmu yang bangun rumah itu, dia yang pertama kali cerita ke saya soal kebun aneh itu. Katanya, itu bukan sihir, itu warisan dari leluhur yang lebih tua lagi—orang yang bangun rumah itu di atas tanah bekas kebun herbal keluarga besar zaman dulu, tempat di mana perempuan-perempuan di keluarga kalian turun-temurun belajar meracik jamu dan mengenal tanaman lebih dalam dari orang kebanyakan. Katanya, ikatan itu nggak pernah putus, cuma pindah bentuk—dari yang tadinya soal jamu dan obat, jadi soal perasaan."

Damar mendengarkan dengan penuh perhatian, kopi di tangannya mulai dingin karena ia lupa meminumnya. "Pak Har tau banyak, ya."

"Saya udah tua, Nak. Yang saya punya cuma cerita-cerita orang-orang yang udah nggak ada lagi." Pak Har tersenyum, matanya menerawang jauh. "Neneknya kalian, Bu Mawar, dulu juga suka ke sini, tiap sore, minum teh, cerita soal kalian berdua waktu masih kecil. Dia bangga banget sama kalian berdua, tau. Meski dia juga suka cerita, dengan mata sedih, soal betapa dia kangen kalian pas kalian udah gede dan jarang pulang."

Lihat selengkapnya