Kirana mengubah ruang kerja nenek secara bertahap selama beberapa bulan, tidak dengan menghapus jejak lama, tapi dengan menambahkan lapisan baru di atasnya—rak buku lama tetap dipertahankan, diisi ulang dengan campuran novel-novel lama nenek dan buku-buku referensi akuntansi milik Kirana sendiri; meja kerja nenek yang terbuat dari kayu jati tebal dipertahankan sebagai meja utama, dengan laptop Kirana diletakkan di atasnya berdampingan dengan mesin tik tua nenek yang masih berfungsi, dipertahankan lebih sebagai kenang-kenangan daripada alat kerja.
Suatu sore, ketika Kirana sedang menyusun laporan audit untuk kliennya di Jakarta, ia menemukan sesuatu yang terselip di antara halaman-halaman buku catatan nenek yang belum sepenuhnya ia periksa—sebuah resep jamu kunyit asam yang ditulis tangan, dengan catatan kecil di pinggirnya: "Untuk Kirana kalau dia demam waktu kecil dulu. Dia paling susah dikasih obat, tapi kalau dicampur madu dikit, dia mau minum."
Kirana membaca catatan itu berkali-kali, air matanya menetes tanpa ia sadari. Ia tidak ingat detail itu—terlalu kecil untuk mengingatnya secara sadar—tapi membaca catatan itu membuatnya merasakan kehadiran nenek dengan cara yang begitu dekat, begitu personal, seolah nenek sedang duduk di sampingnya saat itu juga, mengingatkan hal-hal kecil yang dulu ia lakukan untuk merawat cucu-cucunya.