Bulan Agustus tahun berikutnya membawa musim kemarau yang lebih panjang dan lebih keras dari biasanya di Wonoasri. Sumur-sumur di sekitar Jalan Kenanga mulai mengering, dan warga harus bergiliran menggunakan sumber air bersama dari sumur bor komunal yang dibangun pemerintah desa beberapa tahun sebelumnya.
Kebun rumah Kenanga, meski dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Kirana dan Damar, mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan seperti kebun-kebun lain di sekitarnya—bukan karena ketegangan emosional keluarga, kali ini, tapi murni karena kekurangan air yang melanda seluruh wilayah.
"Ini beda sama waktu itu," kata Damar suatu sore, menyiram tanaman dengan jatah air yang terbatas. "Ini beneran soal cuaca, bukan soal kita."
"Iya," kata Kirana, tersenyum kecil meski khawatir melihat kelopak-kelopak mawar yang mulai layu karena kekurangan air. "Tapi tetep aja sedih liatnya."