Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #20

SURAT UNTUK BIMO

Menjelang ulang tahun Bimo yang kesembilan, Kirana memutuskan untuk menulis sebuah surat panjang untuk adik tirinya—terinspirasi dari surat-surat Retno yang mereka temukan di loteng, dan dari resep-resep kecil nenek yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan.

Bimo sayang,

Kakak nulis surat ini bukan buat dibaca sekarang—Kakak titipkan ke Ibu, buat dikasih pas kamu udah cukup umur buat ngerti semuanya, mungkin waktu kamu remaja nanti.

Kakak pengen kamu tau, keluarga kita ini bukan keluarga yang sempurna. Ada banyak luka lama yang harus kita sembuhkan sebelum kita bisa berkumpul kayak sekarang. Ibu kamu—Ibu kita—pernah ninggalin Kakak dan Kak Damar selama bertahun-tahun, bukan karena dia nggak sayang, tapi karena dia lagi berjuang sama sesuatu yang berat banget, dan orang-orang di sekitarnya, termasuk Nenek Buyut kamu, bikin keputusan yang salah soal kapan waktu yang tepat buat kita semua kembali kumpul.

Kakak cerita ini bukan buat bikin kamu sedih, tapi karena Kakak percaya, kalau kamu tau ceritanya dari awal, kamu bakal lebih ngerti kenapa keluarga kita begitu berharga sekarang. Kita semua udah belajar, dengan cara yang susah, kalau kejujuran itu penting banget—lebih penting daripada niat baik yang berujung nyembunyiin kebenaran dari orang yang kita sayang.

Lihat selengkapnya