Proyek "Catatan Nenek" yang dimulai Kirana beberapa bulan sebelumnya akhirnya mendekati bentuk akhirnya menjelang musim semi tahun kedua sejak kepulangannya ke Wonoasri. Bekerja sama dengan Damar untuk tata letak dan dengan bantuan Sinta yang ternyata memiliki bakat menggambar ilustrasi sederhana, mereka menyusun sebuah buku kecil setebal delapan puluh halaman berisi resep-resep jamu, tips berkebun, dan potongan-potongan kebijaksanaan yang mereka kumpulkan dari catatan-catatan tersembunyi Nenek Mawar di seluruh rumah—diselipkan di antara halaman buku, di balik laci meja, bahkan satu ditemukan terselip di dalam kotak perhiasan lama.
Mereka memberi judul buku itu Rumah yang Mengingat, terinspirasi dari perjalanan mereka sendiri menemukan kembali sejarah keluarga melalui rumah dan kebun yang mereka warisi.
Proses penyusunan buku itu sendiri menjadi perjalanan emosional tersendiri. Setiap catatan yang mereka temukan membuka jendela kecil ke kepribadian nenek mereka yang, selama masa kecil mereka, mungkin tampak sekadar sebagai sosok pengasuh yang penuh aturan dan kadang keras, tapi ternyata menyimpan kedalaman perhatian yang jauh lebih besar dari yang mereka sadari waktu itu.
"Lihat ini," kata Kirana suatu sore, menunjukkan sebuah catatan kepada Damar. "Ini resep obat batuk yang katanya dibuat khusus buat kamu, karena kamu dulu alergi sama obat batuk yang dijual di apotek."