Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #24

MUSIM YANG BERGANTI

Waktu terus berjalan di rumah Kenanga, mengikuti ritme musim yang silih berganti—musim hujan yang membuat kebun subur dan rimbun, musim kemarau yang menguji ketahanan mereka, dan di antara semua itu, kehidupan keluarga yang terus tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri.

Kirana, yang kini telah tiga tahun menetap penuh di Wonoasri, mulai mempertimbangkan langkah baru dalam kariernya—membuka layanan konsultasi keuangan kecil untuk usaha-usaha rumahan di sekitar Wonoasri, memanfaatkan pengalamannya sebagai auditor untuk membantu para pengusaha kecil di kampungnya yang sering kesulitan mengelola pembukuan mereka.

"Ini bukan kerjaan yang bakal bikin aku kaya," katanya kepada Damar suatu malam, mendiskusikan rencana itu, "tapi rasanya lebih... berarti. Aku pengen bantu orang-orang di sini, bukan cuma kerja buat perusahaan besar yang aku bahkan nggak kenal orang-orangnya."

Damar mendukung penuh rencana itu, dan studio desainnya sendiri telah berkembang cukup pesat, kini mempekerjakan dua asisten desainer muda dari Wonoasri yang ia latih sendiri, membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar usaha pribadi—sebuah kontribusi nyata bagi perkembangan ekonomi kreatif di kota kecil yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai tempat yang "tidak ada apa-apanya" dibandingkan kota-kota besar tempat ia dulu bekerja.

Lihat selengkapnya