Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #25

WARISAN YANG SESUNGGUHNYA

Suatu sore, menjelang ulang tahun kelima kepulangan Kirana ke Wonoasri, seorang wartawan muda dari media lokal datang ke rumah Kenanga untuk mewawancarai keluarga mereka—berita tentang buku Rumah yang Mengingat yang, secara mengejutkan, mulai dikenal luas di kalangan pembaca lokal setelah beberapa eksemplar tersebar dari tangan ke tangan, dan tentang gerakan sumur resapan komunitas yang kini telah diadopsi oleh lebih dari dua puluh rumah tangga di sepanjang Jalan Kenanga dan sekitarnya.

"Menurut Anda," tanya wartawan itu kepada Kirana, "apa yang membuat rumah ini begitu istimewa, sampai orang-orang di sini masih menceritakan legenda soal kebunnya yang 'tahu perasaan'?"

Kirana memikirkan pertanyaan itu sejenak, menatap kebun yang terbentang di depan mereka, kini dipenuhi berbagai jenis bunga yang ditanam oleh berbagai generasi keluarganya—mawar dari masa nenek, kenanga yang ditanam untuk mengenangnya, bunga matahari dari Retno dan Bimo, dan area baru yang ditanami Ayu setiap kali ia berkunjung.

"Aku rasa," jawab Kirana perlahan, "rumah ini nggak istimewa karena sihirnya, kalau memang itu yang bikin kebunnya berubah-ubah. Rumah ini istimewa karena dia mengajari kami semua satu hal penting: bahwa kebohongan, sekecil apa pun, sekalipun diniatkan untuk melindungi orang yang kita sayang, pada akhirnya cuma menciptakan jarak yang lebih besar. Dan kejujuran, meski menyakitkan di awal, adalah satu-satunya jalan buat keluarga beneran sembuh dan tumbuh bersama."

Lihat selengkapnya