Beberapa bulan setelah perjalanan ke Solo, Wulan—sahabat lama Kirana dari Jakarta—memutuskan mengambil cuti panjang dan berkunjung ke Wonoasri, penasaran ingin melihat langsung kehidupan baru yang begitu sering diceritakan Kirana lewat panggilan video selama bertahun-tahun terakhir.
"Aku harus liat langsung rumah yang bikin sahabatku berubah total ini," kata Wulan sambil tertawa, turun dari mobil sewaan di depan rumah Kenanga, matanya langsung membelalak melihat kebun yang terhampar di balik pagar besi tempa hijau tua.
Kirana menyambutnya dengan pelukan hangat, memandu Wulan berkeliling rumah dan kebun, menceritakan setiap sudut dengan antusiasme yang membuat Wulan tersenyum geli.
"Kamu jauh lebih hidup sekarang, Kir," kata Wulan, duduk di teras belakang sambil menikmati teh kenanga yang diseduh Kirana dari bunga-bunga di kebun mereka sendiri. "Dulu di Jakarta, kamu kayak... aku nggak tau, kayak orang yang lagi nunggu sesuatu terjadi, tapi nggak pernah bener-bener nunggu apa. Sekarang kamu keliatan kayak orang yang tau persis kenapa dia bangun tiap pagi."
Kirana tersenyum, merenungkan kata-kata sahabatnya. "Aku rasa itu bener, Wul. Dulu aku hidup kayak lagi nunggu, tanpa tau apa yang aku tunggu. Sekarang aku ngerti, yang aku tunggu itu ya ini—rumah ini, keluarga ini, kejujuran yang akhirnya kita semua berani hadapin."