Sementara itu, Ayu, yang kini berusia tiga belas tahun, mulai menghadapi tantangannya sendiri di Balikpapan. Wening, ibunya, kembali menikah setelah bertahun-tahun membesarkan Ayu sendirian, dan pernikahan itu—meski membawa stabilitas finansial yang lebih baik bagi mereka berdua—juga membawa dinamika baru yang tidak selalu mudah bagi Ayu untuk hadapi.
Suatu hari, dalam panggilan video rutin mereka, Ayu tampak murung dan enggan bicara banyak, berbeda dari keceriaannya yang biasa.
"Ada apa, Ayu?" tanya Kirana lembut, memperhatikan raut wajah adiknya yang biasanya ceria.
Ayu ragu-ragu sebelum akhirnya bicara. "Kak, aku nggak tau harus cerita ke siapa. Ayah tiriku... dia nggak jahat, tapi dia sering banget bandingin aku sama anak kandungnya, kayak aku nggak pernah cukup baik. Ibu keliatannya nggak sadar, atau mungkin dia sadar tapi nggak berani ngomong karena takut ganggu pernikahan barunya."
Kirana mendengarkan dengan penuh perhatian, teringat akan perjalanannya sendiri belajar untuk jujur tentang perasaan yang sulit. "Ayu, kamu udah coba cerita ini ke Ibu kamu langsung?"
"Belum. Aku takut dia sedih, atau malah marah karena aku dianggap ngerusak kebahagiaan dia."