Musim kemarau tahun ketujuh membawa duka bagi seluruh kampung Jalan Kenanga: Pak Har, pemilik warung kopi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari Damar dan seluruh keluarga besar mereka, meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya di usia tujuh puluh delapan tahun.
Berita itu menyebar cepat di kampung, dan warung kopi kecilnya yang biasa ramai setiap pagi tiba-tiba terasa begitu sunyi, bangku-bangku kayunya kosong, gelas-gelas kopi tersusun rapi tanpa pelanggan yang biasa duduk berjam-jam bercerita.
Damar, yang mendengar kabar itu pagi-pagi sekali dari anak Pak Har, merasa kehilangan yang mendalam—kehilangan seseorang yang telah menjadi semacam kakek pengganti baginya selama bertahun-tahun terakhir, seseorang yang membantunya memahami sejarah keluarganya dengan cara yang tidak bisa diberikan oleh dokumen atau surat manapun.
"Aku ngerasa kayak kehilangan bagian dari cerita keluarga kita lagi," kata Damar kepada Kirana, duduk di teras dengan mata sembab, memegang secangkir kopi yang tidak lagi terasa sama tanpa Pak Har yang biasa menyeduhnya.