Rumah Peninggalan Hujan

Ahmad Faiz Alkandaumi
Chapter #32

PERCAKAPAN DI RUANG KENANGAN

Ruang Kenangan Pak Har dengan cepat menjadi pusat kehidupan sosial baru di Jalan Kenanga, menggantikan peran yang dulu dimainkan warung kopi itu tapi dengan sentuhan yang lebih inklusif—anak-anak muda kampung mulai berkumpul di sana sore hari untuk belajar kelompok, ibu-ibu rumah tangga mengadakan arisan kecil sambil membaca buku-buku dari rak yang disediakan, dan sesekali, Kirana atau Damar mengadakan sesi berbagi cerita informal tentang perjalanan keluarga mereka, seperti yang mereka lakukan pertama kali di Solo.

Suatu sore, seorang pemuda bernama Rian, yang baru pindah ke Wonoasri setelah menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta, datang ke Ruang Kenangan dengan wajah gelisah. Ia telah mendengar cerita tentang keluarga Kirana dan Damar dari beberapa tetangga, dan memutuskan untuk mencari mereka secara langsung.

"Maaf mengganggu," katanya kepada Kirana yang kebetulan sedang menjaga ruangan sore itu, "tapi saya dengar cerita soal keluarga Kakak, soal gimana kalian akhirnya bisa baikan setelah bertahun-tahun terpisah. Saya... saya lagi ada masalah yang mirip sama kakak saya."

Kirana mengundangnya duduk, menyeduhkan teh kenanga seperti kebiasaan mereka menyambut tamu di rumah Kenanga.

Rian menceritakan bahwa ia dan kakaknya, Prasetyo, telah bertengkar hebat lima tahun lalu soal warisan orang tua mereka yang telah meninggal—pertengkaran yang berujung pada perpecahan keluarga, dengan Prasetyo yang kini tinggal di Surabaya dan menolak berkomunikasi sama sekali dengan adiknya.

Lihat selengkapnya