Suatu malam, beberapa bulan setelah kelahiran Sekar, Kirana duduk sendirian di ruang tengah rumah Kenanga, menjaga keponakannya yang tertidur lelap di ayunan kecil sementara Damar dan Sinta beristirahat setelah malam-malam panjang mengurus bayi. Ia menatap jam kakek tua yang masih berdiri kokoh di sudut ruangan, berdetak dengan ritme yang sama seperti yang ia dengar pertama kali delapan tahun lalu, malam ia kembali ke rumah ini dengan hati penuh keraguan dan luka lama.
Jam itu tidak pernah lagi berdenting aneh sejak malam ia dan Damar berpelukan di teras, mengakui kebenaran dan saling memaafkan untuk pertama kalinya. Seolah rumah itu, setelah bertahun-tahun menjadi saksi bisu atas berbagai kebohongan dan luka yang tersembunyi di dalamnya, akhirnya bisa beristirahat dengan tenang, mempercayai penghuninya untuk terus menjaga kejujuran tanpa perlu diingatkan lagi.
Kirana mengeluarkan jurnal lama yang ia mulai tulis lagi delapan tahun lalu, membuka halaman-halaman awal yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan seorang perempuan yang baru saja kembali menghadapi masa lalunya. Ia membaca kembali entri pertamanya, tentang Bu Yanti dan cerita kebun yang "punya perasaan sendiri," dan tersenyum mengenang betapa jauh perjalanan yang telah mereka semua lalui sejak saat itu.
Ia mengambil pena, dan menulis entri baru di halaman yang masih kosong.