Suatu sore di Ruang Kenangan Pak Har, Rian datang berlari kecil, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan. Kirana, yang kebetulan sedang membantu mengatur rak buku bersama Bimo yang kini bekerja paruh waktu di sana sambil menunggu kelulusan sekolahnya, langsung menyadari ada kabar baik yang ingin dibagikan pemuda itu.
"Kak Kirana!" seru Rian, hampir kehabisan napas. "Mas Prasetyo bales suratku!"
Kirana meletakkan buku yang sedang ia pegang, tersenyum lebar. "Apa katanya?"
Rian mengeluarkan selembar kertas dari sakunya, tangannya sedikit gemetar karena terlalu sering dibaca ulang selama perjalanan ke Ruang Kenangan. "Dia bilang dia juga kangen. Dia bilang dia sebenarnya udah lama pengen hubungin aku lagi, tapi gengsi karena dia yang mulai marah-marah dulu soal warisan itu. Dia bilang dia pengen kita ketemu, ngomongin semuanya baik-baik."