Beberapa minggu sebelum perayaan sepuluh tahun kepulangannya, Kirana menerima telepon dari kantor pusat firma audit lamanya di Jakarta—tawaran posisi senior partner, sebuah jabatan yang dulu, sebelum ia kembali ke Wonoasri, adalah impian tertinggi dalam kariernya. Gaji yang ditawarkan jauh lebih besar dari penghasilannya sekarang sebagai konsultan keuangan lepas untuk usaha-usaha kecil di kampungnya, dan posisi itu akan mengharuskannya kembali menetap di Jakarta secara penuh.
Ia menghabiskan beberapa hari memikirkan tawaran itu dengan serius, bukan karena ia benar-benar ingin pergi, tapi karena ia merasa perlu menguji kembali komitmennya sendiri—apakah keputusannya menetap di Wonoasri selama ini murni karena pilihan sadar, atau sekadar kenyamanan yang belum pernah benar-benar ia pertanyakan.
Suatu sore, ia mengajak Damar berjalan-jalan di sekitar Jalan Kenanga, menyusuri jalan yang sama yang dulu ia lalui dengan ojek saat pertama kali kembali sepuluh tahun lalu, kini dengan pepohonan yang lebih rimbun dan beberapa rumah tetangga yang telah direnovasi mengikuti perkembangan zaman.
"Aku dapet tawaran kerja di Jakarta," katanya kepada Damar, mengejutkan adiknya yang tidak menyangka kabar itu. "Posisi bagus banget. Gaji gede."
Damar berhenti melangkah, menatap kakaknya dengan ekspresi campuran terkejut dan sedikit khawatir. "Kamu mau ambil?"