Menjelang hari perayaan sepuluh tahun itu sendiri, Bimo, yang selama bertahun-tahun diam-diam mengumpulkan foto-foto kebun dan keluarga dalam proyek pribadinya, memutuskan untuk menyusun semuanya menjadi sebuah album cetak besar sebagai hadiah kejutan untuk Kirana dan Damar.
Ia bekerja berminggu-minggu, memilah ratusan foto yang telah ia ambil sejak usia lima belas tahun—foto kebun di setiap musim, foto keluarga di setiap perayaan, foto-foto candid yang menangkap momen-momen kecil yang mungkin tidak pernah disadari oleh yang difoto tapi menjadi begitu berarti ketika dilihat kembali bertahun-tahun kemudian: Kirana yang tertawa lepas saat menyiram kebun, Damar yang berjongkok mengajari Sekar berjalan, Retno yang menatap penuh kasih ke arah kedua anaknya saat mereka tidak sadar sedang diperhatikan.
Ia menyusun album itu secara kronologis, dimulai dari foto-foto lama keluarga yang ia pindai dari koleksi Nenek Mawar—foto pernikahan kakek-nenek, foto ayah dan bibi-bibi Kirana waktu kecil, foto Kirana dan Damar kecil di depan kebun mawar yang sedang mekar sempurna—hingga foto-foto terbaru yang ia ambil sendiri selama beberapa tahun terakhir.
Pada hari perayaan, setelah acara utama selesai dan sebagian besar tamu telah pulang, Bimo menyerahkan album itu kepada Kirana dan Damar, wajahnya memerah karena gugup meski bangga dengan hasil kerja kerasnya.
"Aku bikin ini," katanya, "buat kalian berdua. Sama buat seluruh keluarga, sebenarnya. Biar kita semua bisa liat lagi, gimana perjalanan kita sampai di titik ini."