Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #1

Bagian 1: Istana dan Pangeran

Dahulu kala, hiduplah seorang pangeran yang tampan rupawan dan gagah berani. Ia memiliki istana yang megah dan besar sekali. Perawakannya baik, percaya diri, dan suka menolong. Setiap hari, ia selalu menyapa dunia dengan kata-kata lembut sambil menapakkan kaki di pelataran istana. Lalu sorenya ia membaca buku di taman, menikmati cahaya jingga yang pelan-pelan turun, mengalah demi sang bulan yang siap menampilkan pertunjukan. Saat itu datang, ia duduk di singgasana, memakai mahkota yang berkilau, dan menyuruh pasukan untuk selalu berjaga di area istana. Tak boleh ada musuh yang bisa menyelinap masuk dan melongsorkan kekuasaannya. Lantas ia akan tertidur pulas di kasur yang empuk, berselimutkan bau-bauan emas dan kekayaan yang tak pernah kandas.

Sayangnya, kisah sang pangeran itu tak berakhir dengan bahagia, seperti ia menemukan putri cantik yang dinikahi, lalu memiliki tiga atau lima anak yang berlomba-lomba menjadi penguasa. Sayang sekali itu adalah ceritaku, tentang diriku. Sebenarnya, ia tak punya pasukan. Itu hanya halusinasi semata. Karena dia seorang pencerita, maka dia bisa membuat fatamorgana menjadi nyata. Bahkan namanya saja sudah menjadi salah satu fatamorgana yang nyata. 

Pilu. Tak banyak orang yang punya nama itu. Jika nama adalah doa, maka nama itu berarti mendoakan pemiliknya tenggelam di dalam kepiluan atau kesedihan selamanya. Maka biarlah begitu. Toh, aku juga tak pernah tertawa. Aku sudah kehilangan benda itu sejak tinggal di sini, di istanaku sendiri.

Tapi jika boleh berkata jujur, aku tak tahu namaku siapa. Sejak aku hadir di tempat ini, sudah ada name tag bertuliskan “Pilu” yang tertempel di dadaku. Nama itu dijahit begitu saja di pakaian hitam yang kupakai. Saat kubuka lemari yang ada di kamar, semua bajuku punya name tag itu, dan semuanya hitam.

Aku tidak ingat kapan tepatnya aku hadir di tempat ini. Di umur berapa saja aku tidak tahu, karena umurku yang sekarang juga aku tidak tahu. Tapi wajahku masih seperti anak kecil, begitu juga tubuhku. Kupikir setiap kali terbangun dari tidur aku akan bertambah tinggi. Tapi setelah melihat coretan di dinding ketika aku mengukur tinggi badan setiap hari, angkanya selalu sama. Artinya, aku tak bertumbuh, baik ke samping maupun ke atas. 

Lihat selengkapnya