Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #2

Bagian 2: Ratu dan Raja

Satu hal yang belum kuceritakan, bahwa sebenarnya Mona Lisa bisa berbicara. Semakin sering aku bercerita dengan perempuan di lukisan yang bisa berpindah-pindah itu, lama kelamaan ia tak tahan jika hanya mendengarkan saja. Maka ia membuka mulut, mengeluarkan sepatah-dua patah kata untuk menanggapi keluh kesahku. Tapi terkadang ia terbata-bata. Wajah dan mulutnya masih kaku. Ia belum bisa banyak berekspresi dengan wajahnya. Bahkan beberapa kali mulutnya saja yang terlihat bergerak. Matanya tetap terbuka dan melotot ke arahku, mengintai kemana pun aku pergi.

Pagi ini, tiba-tiba ia membangunkanku. Ia berteriak dengan suara yang melengking, nyaris membuat gendang telingaku pecah. Aku sontak membuka penutup mata, mengusap mata berkali-kali. Pandanganku masih buram. Rasanya masih ada banyak kotoran yang menempel di pucuk-pucuk bulu mata.

“Kau ini kenapa, Mona Lisa?” tanyaku setelah sebagian pandanganku terlihat jelas. 

“Ada yang aneh,” jawabnya pelan. Pita suaranya bergetar. Ia terdengar ketakutan. Walaupun perempuan itu tak pandai berekspresi, setidaknya aku tahu betul setiap arti dari nada bicaranya. 

“Ya, ya, ya. Tempat ini memang selalu aneh. Sekarang bentuknya berubah menjadi apa lagi?” Aku duduk di tepi ranjang, menghadap Mona Lisa yang masih menempel di dinding samping ranjang, sembari tetap mengusap mataku. Entahlah, pandanganku masih terlihat sedikit buram.

“Bukan itu.”

“Oh, kau tidak sadar kalau kau bisa bicara? Itu kan sudah lama sekali. Jangan pakai lelucon itu lagi!”

“Bukan itu.”

“Ada suara ketokan lagi?” Sesaat tubuhku membeku. Bulu-bulu di sekujur tubuhku berdiri sempurna. Membahasnya saja sudah membuatku merinding. Tapi bukankah ini sudah pagi? Tadi sempat kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul lima. Dalam perhitunganku itu sudah pagi.

“Aku tidak tahu maksudmu. Yang ini berbeda.”

“Apa maksudmu berbeda?”

“Ada pria yang duduk di sofa hijau itu.” 

Mendengar itu, tubuhku langsung tersentak kaget. Dengan cepat aku mengusap kedua mataku lebih cepat. Lalu pelan-pelan kukedipkan keduanya berkali-kali. Embun-embun akhirnya menghilang dari pandanganku. Di depanku, sekitar delapan meter, seorang pria dengan pakaian besi tengah melambaikan tangan ke arahku. Ia tersenyum aneh. Aku tahu persis bahwa senyuman itu tidak tulus. Senyum yang terlihat dibuat-buat dan dipaksakan. Sama seperti Mona Lisa yang masih belajar untuk membuat ekspresi di wajahnya. 

Semakin lama kutatap wajahnya, semakin senyumnya bergetar. Lalu aku melangkah pelan menghampirinya. Senyumnya semakin gentar, seolah rahasianya sudah diketahui orang lain. Aku terus melempar tatapan tajam ke arahnya. Lambaian tangannya semakin lama semakin pelan, lantas turun dengan canggung. Aku sampai tepat di depannya, berjarak hanya satu meter. 

“Kau siapa?”

Pria tersebut memasang senyum aneh itu lagi. Ia meraih salah satu tanganku, menggoyangkannya untuk berjabat tangan. “Perkenalkan, namaku Perkasa!”

Aku menatapnya sinis.

“Sepertinya kurang berkesan.” Kemudian ia naik ke sofa, berdiri di atas sana sambil memamerkan otot-otot di lengannya. “Namaku … adalah Perkasa!”

“Mau apa kau di tempatku?” tanyaku tanpa bertele-tele. Mendengarkan perkenalannya terus bisa membuat telingaku muntah darah.

“Kedatanganku di sini hendak mencari keberadaan seorang ratu untuk kunikahi. Adakah seorang ratu yang tinggal di … istana sekecil ini?” Ia turun dari sofa, lalu menempelkan kedua lututnya di lantai yang dingin, menghadapku dengan tatapan memohon.

Lihat selengkapnya