Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #3

Bagian 3: Pelukis Ternama

Kepalaku tak pernah menangkap bagaimana sosok orang tua di hidupku. Aku tak pernah tahu dari raja dan ratu manakah aku berasal? Aku tidak pernah memikirkannya. Ketika aku berusaha mengulik kembali laci-laci memori, melempar jangkar ke masa lalu yang paling jauh, aku tak menemukan kata orang tua di sana. Itulah yang sampai sekarang membuat mataku tetap terbuka di balik kacamata tidur yang menutupinya. Haruskah aku berterima kasih kepada Perkasa karena membuatku mencari tahu siapa orang tuaku? Ataukah aku harus mengutukinya sekali lagi karena membuatku tak bisa mengisi energi?

Aku berteriak selama dua detik, sekeras yang kubisa. Lalu kucopot penutup mata dan melemparnya ke sembarang arah. Geram sekali jika kepalaku sudah berisi banyak pertanyaan dan aku tak bisa menemukan jawabannya. Entahlah, aku seperti tak punya masa lalu. Jiwaku sudah seperti dilahirkan di sini, dengan raga yang sudah berbentuk sebesar ini. Aku tidak tahu apakah aku juga mengalami fase bayi seperti dongeng-dongeng yang kubaca, mempelajari bagaimana caranya berjalan dan menangis, atau mengucapkan kata ‘mama’ dan ‘papa’ untuk pertama kalinya. Tak dapat kutemukan adegan itu di kepalaku. Gelap. Kosong. Hanya kesunyian dan abu-abu yang mengisi setiap ruang di kepalaku.

Lalu aku bertanya kepada Mona Lisa, “Kau punya orang tua?”

Dengan matanya yang masih melotot, ia bergumam, “Kau ini bodoh atau apa? Aku ini lukisan. Mana ada aku punya orang tua. Kenapa kau menanyakan itu?”

Aku duduk di tepi ranjang, berhadapan langsung dengan Mona Lisa yang tertempel di dinding. “Gara-gara Perkasa aku jadi memikirkan siapa orang tuaku. Di mana keluargaku.”

“Kau bilang tidak punya orang tua dan kau tidak memintanya.”

“Aku memang tidak memintanya … tapi punya orang tua kedengarannya seru juga.”

“Kau bilang mereka merepotkan karena memberikan banyak larangan.”

“Memang … begitu. Tapi ….” Aku mencoba menimang-nimang pikiranku sendiri. “Ah, sudahlah! Aku mau pasang lampu.”

Kuputuskan untuk mencari kesibukan lain agar pertanyaan-pertanyaan itu hilang dengan sendirinya. Rasanya sangat berat jika harus menjawabnya satu per satu. Bisa-bisa aku mati konyol di sini.

Aku mengambil kardus berisikan lampu-lampu dari laci rak buku besar di samping kanan ruangan ini. Saat aku membukanya, buku-buku di bagian atas bergetar. Aku mengerjapkan mata, menyadari bahwa sesuatu yang menyebalkan akan segera terjadi. Buku-buku itu keluar dari tempatnya berdiri, melayang di udara. Sedetik kemudian mereka terbuka. Sisi halamannya menatap lantai, lantas mengepak-ngepak bak sayap burung. Mereka terbang di sekitarku. Aku menghela napas berat sembari mengeluarkan kardus itu dari dalam laci.

Ada lima bohlam lampu di dalam kardus itu. Aku mendapatkannya saat baru dua minggu tinggal di sini. Tak tahu apa-apa. Pemikiranku masih benar-benar polos kala itu. Ruangan ini sebenarnya sudah punya lampu. Ada lima lampu yang terpasang di langit-langit. Warnanya putih. Kubaca salah satu dongeng dari buku-buku terbang yang mengajakku bermain waktu itu. Mereka mengundang seorang pelukis muda yang berbakat ke istanaku.

“Namaku Biru,” katanya sambil tersenyum, mengajakku berjabat tangan. 

Kutatap matanya lamat-lamat. Ada banyak kebahagiaan yang terpancar di sana. Kebahagiaan yang tak pernah kurasakan dua minggu yang lalu. Sendirian. Tanpa seorang teman. 

“Matamu bagus.” Ia melontarkan pujian kepadaku. Sontak aku mengernyitkan dahi. Kuanggap itu sebagai sebuah ledekan. Karena setelah kulihat di cermin, mataku hanya berwarna hitam pekat, tidak seperti dirinya yang punya kilauan biru, persis dengan namanya. 

“Maaf jika membuatmu tersinggung.” Aku terkejut. Ia seperti bisa membaca pikiranku. Lalu ia berkeliling di ruangan ini, melihat satu persatu barang yang ada. Aku mengekor di belakangnya untuk memastikan ia tidak merusak semua yang ada di sana. Bagaimanapun juga, aku sudah mulai terhubung dengan ruangan ini walau masih beberapa hari, tidak boleh ada yang merusaknya.

“Langit di sini membosankan,” ujarnya sembari menengadah. Ia menunjuk lampu yang menggantung di langit-langit. Kuikuti arah matanya. Lampu-lampu itu menyilaukan mata. Bentuknya seperti berlian. Warnanya putih mengkilap. 

“Itu bukan langit, itu lampu.”

Tiba-tiba ia tertawa dengan keras usai mendengar perkataanku. Kupikir dia gila karena sekarang dirinya berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya. Katanya seperti ada yang menggelitik di sana, membuatnya sesak untuk bernapas. 

“Aku tahu itu lampu. Warnanya mengingatkanku pada langit di siang hari. Jika tidak ada dia, maka udara akan sangat panas.”

Aku mengernyitkan dahi. “Memangnya langit bisa berubah warna?”

Dia menatapku kebingungan. Sekarang aku seperti orang bodoh yang tidak tahu seluk-beluk langit. Bagaimana aku tahu langit warnanya bisa berubah jika aku tak pernah melihatnya secara langsung. Kupikir karena dia menyebut lampu sebagai langit, jadi warnanya hanya sebatas putih saja. 

“Kau tidak pernah melihat langit berwarna jingga? Atau abu-abu? Atau hitam saat malam?”

Aku menggeleng pelan.

“Sungguh? Sekali pun?”

Aku menggeleng sekali lagi. “Selama tinggal di sini aku tak pernah melihat langit. Di kepalaku, aku juga tidak tahu bentuk dan warna langit itu seperti apa.”

Dia cepat-cepat menepuk dahinya. Terdengar bunyi yang sangat keras dari sana. “Kau mau ikut denganku?”

“Ke mana?”

“Ke rumah.”

Aku menggeleng. Kali ini tidak dengan pasrah, tapi dengan yakin dan kuat. “Aku tidak bisa keluar dari sini. Tidak ada pintu di sini. Makanya aku tidak pernah keluar. Aku tidak pernah tahu isi dunia luar. Termasuk langit. Di sinilah rumahku.”

Lihat selengkapnya