Aku selalu berpikir bahwa istanaku sangatlah kecil. Hanya terdiri dari satu ruangan yang merupakan sebuah kamar. Lalu saat lubang itu muncul, bayangan-bayangan di kepalaku mengatakan bahwa istana ini punya banyak ruangan selain kamarku.
Diameter lubang ini sekitar satu meter dengan sisi lingkarannya yang dilapisi besi berwarna emas. Mirip sebuah portal ajaib yang kubaca dari salah satu dongeng di buku. Aku mengintip dari ujung lubang. Di luar kamarku, dinding-dinding putih terlihat sangat bersih, mengkilap. Tunggu, aku bahkan melihat lubang-lubang yang serupa di beberapa sudut. Tapi kusisir pandanganku ke berbagai arah, tetap tak kutemukan tanda-tanda jalan keluar dari tempat ini. Tidak ada pintu yang mengarah ke dunia luar. Atau, tidak terlihat jelas karena aku belum mencarinya dari luar kamar.
Sontak aku berdiri dan berlari menuju kasur, membuka laci-laci lemari kecil di sana. Aku memasukkan barang-barang berguna: kertas, pena, gunting, tali, dan juga beberapa roti. Lantas menggendong ransel di punggung.
“Mona Lisa, aku akan keluar dan memeriksa sebentar,” ujarku. Tak ada jawaban dari perempuan itu. Kulihat matanya melotot ke arah lubang itu berada. Tapi tatapannya berbeda. Dia tak seperti melotot ke arahku dengan wajah datarnya. Ada rasa takut dibalik tatapan itu. Aku bisa membacanya.
Kulihat lagi lubang itu dari tempatku berdiri, di samping Mona Lisa. Tidak ada hal aneh yang terjadi di sana. Lubang itu tetaplah lubang. Tidak berubah bentuk, tidak berubah warna. Yang pasti, lubang itu terus merayuku untuk keluar dari sini dan mencari tahu ada apa di luar kamar. Kuputuskan untuk tidak peduli dengan Mona Lisa dan bergegas melewati lubang itu.
Saat aku baru saja menunduk dan bersiap merangkak ke dalam lubang, Mona Lisa tiba-tiba berujar, “Cepat kembali, Pilu. Kuharap kau baik-baik saja.”
Aku mengangguk seadanya, lantas masuk ke dalam lubang. Kepalaku masih bertanya-tanya apa maksud perkataan Mona Lisa. Kuputuskan untuk memikirkannya nanti.
Beruntungnya lubang ini muat untuk tubuhku yang kecil. Tapi ada yang aneh saat aku sudah berada di dalamnya. Ketika aku mengintip tadi, lubang ini terlihat pendek dan bisa dijangkau hanya dengan empat kali merangkak. Namun saat aku sudah ada di dalam, ujungnya terasa sangat jauh. Lubang ini ternyata panjang. Aku sudah merangkak sepuluh kali, belum juga sampai di ujung.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya ujung lubang bisa kugapai. Kuinjakkan kaki di lantai asing itu untuk pertama kalinya. Mula-mula, aku harus meregangkan otot-ototku terlebih dahulu karena rasanya sangat pegal. Lalu kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Aku berdiri di pinggir sebuah ruangan besar berdinding putih. Saat kusentuh dinding itu, rasanya lebih dingin daripada dinding kamarku. Tapi lantainya terasa hangat, mirip rumput-rumput di rumah Biru kala itu. Di tengah-tengah ruangan, ada sebuah balok yang berdiri tegak dengan vas bunga di atasnya.
Ruangan ini sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Luasnya dua kali dari kamarku, tapi hanya ada balok dan vas bunga itu saja. Tepat di tengah-tengah ruangan, segaris dengan mulut lubang. Tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya ketika aku mengintip? Apakah bunga itu muncul begitu saja ketika aku menginjakkan kaki di sini? Pertanyaan-pertanyaan itu masih berisik di kepalaku.
Kudekati bunga yang tinggal di vas. Sedari tadi mataku tak bisa fokus ke mana pun. Bunga ini menarik perhatianku. Warnanya ungu, sedikit mendekati hitam. Dalam satu tangkai, ada banyak bunga yang tumbuh berdampingan. Mereka seperti keluarga, sebuah kelompok. Lalu pemimpin akan tumbuh di tangkai paling atas, puncak kekuasaan. Seorang diri. Kelopak bunganya melengkung ke bawah, menutup bagian tengah. Bentuknya seperti tudung biarawati.
Aku pernah membaca buku soal bunga-bunga yang tumbuh di alam. Lalu perempuan ceria bernama Mawar datang untuk mengajariku berbagai fakta unik mengenai bunga. Katanya, sejak lahir ia hidup berdampingan dengan bunga. Ibunya adalah seorang peri bunga. Tapi dia bukan peri. Dia manusia. Ibunya menikah dengan seorang manusia biasa yang membuat ratu peri murka dan memberikan hukuman bagi ibunya bahwa keturunannya akan menjadi manusia. Maka jadilah ia manusia pecinta bunga.