Aku tak berani untuk sedikit saja mengintip apa yang terjadi di sekitar. Kubiarkan pikiranku kosong. Agar jika aku benar-benar mati, setidaknya aku tidak banyak pikiran. Cukup di tempat ini saja aku selalu lelah memikirkan bagaimana caranya keluar. Di surga, kuharap aku lahir kembali sebagai malaikat. Atau jika itu terlalu susah untuk dikabulkan, kuharap aku bisa merasakan banyak hal. Salah satunya adalah menangis.
Katanya, menangis adalah cara untuk mengungkapkan perasaan sedih, kecewa, menyesal, dan sebagainya dengan mencucurkan air mata serta mengeluarkan suara seperti tersedu-sedu atau menjerit-jerit. Selama tinggal di sini, aku belum pernah merasakannya. Aku tahu apa itu tertawa, cemberut, marah, dan merasakan itu semua. Tapi menangis, aku hanya tahu artinya saja. Belum pernah mengalaminya. Maka kuharap saat ini juga aku bisa menangis sebelum mati. Agar nanti saat sampai di surga, aku hanya perlu tertawa.
Kurasakan deru napas badut raksasa itu menampar sekujur tubuhku. Sangat dingin. Semakin lama semakin kencang bagai ditiup angin laut. Lalu bau tidak enak menyeruak di sekitar, masuk ke dalam hidungku. Baunya seperti besi yang direndam air obat. Menyengat. Aku tahu bau obat saat dulu tak sengaja meminumnya karena kupikir itu adalah air putih. Segera aku memuntahkannya dan mengotori kamar. Begitulah baunya mengelilingiku, mengikatku hingga benar-benar kehabisan napas. Kurasakan detak jantungku semakin lambat. Tanganku meremas dada. Sakit. Napasku tersendat di tenggorokan. Sepertinya darah sudah tidak mengalir lagi di seluruh organ tubuhku.
Saat kudengar detak jantungku yang terakhir sebelum aku jatuh tersungkur, suara auman tiba-tiba menggetarkan gendang telinga. Ruangan ini ikut terkena dampaknya. Bisa kurasakan dinding-dindingnya juga terkejut akan suara yang tiba-tiba muncul. Sedangkan badut itu, ia berteriak hebat. Tangannya dengan cepat menutup kedua telinga. Ia terus menggelengkan kepala, mengusir auman yang tak kunjung berhenti. Anehnya, auman itu terdengar lirih di telingaku. Tak ada rasa sakit di sana seperti yang kurasakan saat si badut berteriak kepadaku. Sebaliknya, nyaman dan hangat. Seperti nyanyian keluarga Biru kala itu. Terdengar sangat merdu dan membuatku mengantuk.
Kubuka mataku pelan-pelan. Rasanya berat seperti bangun tidur. Netraku kemudian tertuju pada hewan kecil di seberang ruangan. Keempat kakinya terbuka lebar. Bulu-bulu seputih salju di sekujur tubuhnya berdiri tegak, terlihat setajam pisau. Ekor di belakangnya lurus dan menjulang ke atas. Cakar-cakarnya keluar. Kecil tapi terlihat kuat. Ia menghadap ke atas, ke arah badut raksasa. Lantas sekali lagi suara auman panjang terdengar. Kucing kecil itu bergerak maju perlahan-lahan. Si badut terpojokkan oleh dinding-dinding yang hitam pekat. Ia terus mengerang kesakitan. Kulihat darah segar mulai keluar dari dalam telinganya yang sebesar kasur di kamarku.
Badut itu tak diam saja. Dengan rasa sakit yang terus diperolehnya, ia maju, melemparkan cakaran besar ke arah kucing di depannya. Hewan mungil itu bergerak lincah, menukik tajam ke arah lain, lantas melesatkan serangan balik berupa auman. Badut itu kesusahan menghindar karena tubuhnya yang begitu besar. Ia bergerak gusar mengejar si kucing yang terus berlarian ke sana kemari. Aumannya tak pernah berhenti sedetik pun, pelan-pelan menjatuhkan sang badut.
Sayangnya, tak lama kemudian gerakannya berhasil diblokade. Tangan besar badut itu mendarat tepat di depannya yang sedang terpojokkan, bergerak pelan hendak menangkap. Dari kejauhan, aku sudah tak bisa melihat kucing itu lagi karena tertutupi sepenuhnya oleh tubuh si badut. Maka detik itu juga aku mengambil aksi nekat. Aku berpikir jika aku membanting vas bunga tempat tudung setan itu bersemayam—sarang si badut itu muncul—badut itu akan mati karena bunganya juga mati. Ternyata memang benar, tak ada yang semudah membalikkan telapak tangan di dunia ini. Vas itu tak dapat digerakkan sedikit pun. Bagian bawahnya seperti menempel erat dengan balok putih yang terus menopangnya untuk berdiri tegak. Aku berusaha mendorong balok itu dari berbagai arah. Nihil. Bergeser pun tidak.
Tapi mungkin aku harus bersyukur akan satu hal. Sesaat setelah aku mencoba melakukan apa pun untuk merusak vas dan bunga di dalamnya, badut itu langsung berganti fokus. Ia seperti merasakan bahwa rumahnya sedang terancam. Badannya yang besar segera bangkit dan berbalik arah. Kakinya mengambil satu langkah besar yang langsung jatuh tepat di depanku. Kucing itu berhasil selamat. Sebagai gantinya, nyawaku kembali terancam. Salah satu lengannya teracung ke atas, memperlihatkan telapak tangan yang kotor akan darah segar dari telinganya. Detik kemudian, tangan besar itu melesat cepat hendak menabrak tubuhku. Kupejamkan mata erat-erat. Kuharap rasanya tidak sakit.
Tapi apa ini? Sesuatu terasa sedang melilitku. Lalu tubuhku melayang dengan cepat, ditarik dari samping. Kurasakan angin menerpa rambutku saat melayang selama beberapa detik. Kemudian hilang, begitu juga teriakan si badut. Kakiku menapak pada lantai yang asing. Aku bisa merasakannya walaupun dengan mata tertutup. Saat kubuka pelan-pelan, ruangannya berubah. Aku tak lagi berada di ruangan hitam yang berisik, penuh benci, dan menyeramkan. Oh ya, jangan lupa soal baunya yang membuat mual. Aku tak sudi jika harus kembali ke ruangan tempat badut itu bersemayam.
Lantas, di mana aku sekarang? Bagaimana aku bisa masuk ke ruangan ini? Tidak ada lubang di dindingnya. Atau aku sebenarnya punya kekuatan super bisa menembus dinding? Jika begitu kenapa tidak dari tadi aku pergi saja melarikan diri? Setidaknya aku senang bisa kembali ke ruangan dengan dinding-dinding putih. Rupanya rasa benciku terhadap dinding-dinding itu menghilang berkat si badut tudung setan. Tapi, ruangan ini bukan kamarku. Dia baru di mataku, mengajakku untuk berkenalan.
Ruangan ini tidak kosong. Ada meja dengan empat kursi di tengahnya. Lemari-lemari berderet rapi di samping, lengkap dengan kompor dan peralatan makan. Ada banyak bintang kecil yang berkilauan di langit-langit. Foto-foto buram ditempel di dinding, di samping kulkas. Aku tidak bercanda. Foto-foto itu memang buram. Aku pernah mengoperasikan kamera polaroid yang kutemukan di laci rak buku. Jika menggoyangkan foto yang keluar dari sana, biasanya hasilnya akan terlihat jelas. Sudah kucoba demikian, tetap saja buramnya tidak hilang. Maka kubiarkan saja.
Aku lelah sekali. Kuputuskan untuk duduk sebentar di salah satu kursi. Luka di lenganku semakin terasa nyeri. Aku bahkan tak kuasa melihat lukanya yang menganga lebar. Memang sudah tak banyak darah yang keluar, tapi lukanya begitu dalam. Jika digali sedikit lagi mungkin tulangku sudah terlihat.