Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #6

Bagian 6: Keanehan Terbaik

Di tempat ini, aku seperti dipaksa untuk menyesuaikan diri secepat mungkin dengan bentuk dan keanehan yang ada di dalamnya. Terkadang jika aku merasa nyaman, akan kusebut tempat ini sebagai rumah. Tempat aku melepas penat, memikirkan hal-hal sederhana yang sepertinya belum pernah aku lakukan sepanjang hidup—walaupun aku tidak tahu sekarang ini aku sedang hidup atau tidak. Kusebut sebagai penjara saat dia memaksaku untuk bergerak cepat, panik, dan tergesa-gesa. Bentuknya yang berubah-ubah, memaksaku untuk selalu siap siaga dan memikirkan strategi dadakan dengan cepat agar aku bisa selamat. Bagaimanapun juga, aku masih punya insting untuk bertahan. Apa pun caranya, akan kulakukan untuk bertahan.

Saat dinding-dinding dapur ini hendak menabrakku dari berbagai arah, aku segera bangun dan berlari mencari celah yang kosong. Tak ada waktu untuk diam. Sudah kubilang, aku dipaksa untuk beradaptasi. Maka yang bisa kulakukan adalah bergerak. 

Mataku berpindah ke sana kemari, memindai keadaan yang ada di sekitar. Getaran pada lantai-lantai yang kupijak semakin menjadi-jadi. Kubentangkan kakiku selebar dan sekokoh mungkin agar tidak jatuh. Dari kanan, sebuah dinding bergerak cepat mengejarku. Dengan segera aku melompat, berguling ke depan dan menabrak dinding lain. Dinding di depan mendorongku ke arah sebaliknya. Aku bangkit dan mencoba untuk menahan pergerakannya. Beban sudah kupusatkan pada kedua kaki yang bertahan di lantai. Kurasakan otot dan nadiku ikut bekerja keras menahan dinding tersebut. Bunyi decitan kaki terdengar. Getaran-getaran pada lantai membuatku susah untuk menemukan keseimbangan. Tempat ini benar-benar menyiksaku.

Belum selesai berurusan dengannya, dari belakang dinding lain bergerak cepat hendak menabrak. Sontak aku membentangkan tangan satunya, mencoba menahannya semaksimal mungkin. Posisiku kini terhimpit. Aku benar-benar sedang beradu tenaga. Dua lawan satu. Kemungkinan terburuknya kedua tanganku patah dan akhirnya tubuhku menjadi setipis kertas. Kemungkinan terbaiknya … tidak ada. Di situasi menegangkan seperti ini, kepalaku tidak mau menangkap kalimat-kalimat afirmasi. Aku terlanjur pesimis dengan usahaku sendiri.

Tapi ada satu hal yang masih kuyakini. Keberuntungan. Tempat ini semakin aneh jika tidak ada keanehan yang bisa membantuku. Kau akan paham nanti.

Sedari tadi, ketika tempat ini bergejolak dan mulai mengeluarkan keanehan, aku belum melihat keberadaan kucing putih itu. Hewan seperti dia punya insting yang tajam terhadap perubahan yang ada di sekitar. Aku sempat mempelajarinya. Mereka bisa tahu lebih dulu jika akan terjadi gempa, bencana alam, atau hal-hal di luar kendali. Sehingga mereka bisa lebih cepat menyusun strategi untuk menyelamatkan diri. Jadi, seharusnya kucing itu sekarang sedang berlari ke sana kemari juga karena panik dan berusaha menyelamatkan diri. Atau … sepertinya dia meninggalkanku dengan berpindah ke ruangan lain sendirian. Maka aku akan berpasrah seratus persen pada kemungkinan terburuk. 

Lalu terbesit di kepalaku soal lubang yang dibuat oleh si kucing. Jika makhluk seperti dia yang memang tinggal di tempat ini bisa membuatnya, bukankah sebenarnya aku juga bisa membuatnya? Kalaupun tidak bisa, kucing itu pasti meninggalkan bekas lubang yang dibuatnya. Karena panik, dia tidak sempat menutupnya kembali. Maka jalan yang bisa kuambil saat ini adalah mencari lubang tersebut.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba berjalan ke ujung celah. Tanganku terus menahan dinding dari berbagai sisi. Sedikit lagi aku bisa keluar. Napasku menderu tak henti-henti. Aku memejamkan mata sesaat, berdoa agar aku bisa melakukannya. Kuberanikan diri untuk segera melompat dan berguling ke depan. Berhasil, langsung berakhir dengan posisi jongkok. Tak ada waktu untuk bangga. Aku segera berlari, menghindari berbagai benturan yang ada sembari menyisir setiap dinding dan benda-benda besar yang bergerak. 

Kau mungkin bingung kenapa dinding yang bergerak tidak membuka celah besar ke ruangan lain, bukankah satu sama lain saling terhubung? Nanti saja kujawab. Ini soal hidup dan matiku.

Lihat selengkapnya