Rumah Pilu Tak Berpintu

Dann
Chapter #7

Bagian 7: Botol Minum

Pernah sekali aku merasa hilang kepercayaan pada Mona Lisa. Saat pertama kali bertemu, perempuan pada lukisan itu sering kali bercanda. Ada banyak kamus lelucon yang ada di balik kepalanya yang gepeng dan sedikit terkelupas. Walaupun dengan matanya yang melotot, aku berhasil tertawa dibuatnya. Mungkin lebih sering bukan karena leluconnya, tetapi karena wajah kakunya yang tidak cocok dengan lelucon tersebut. Benar-benar menggelitik tubuhku.

Aku percaya bahwa tempat aneh ini punya wajah asing yang masih tersembunyi. Ada banyak hal yang belum kulihat dengan mata telanjang. Terkadang melihat dengan bola mata saja tidak cukup untuk memahami tanda-tanda kemunculannya. Maka aku menggabungkan hati dan pikiran. Apakah yang kulihat sesuai dengan intuisiku? Apakah benar aku bisa merasakan kehadirannya atau itu adalah ilusi yang kubuat sendiri karena kesepian yang merajalela? Aku selalu memastikannya.

Sejauh ini aku benar-benar merasakan kehadiran para makhluk aneh di tempat ini. Tak hanya yang muncul dari buku terbang, tapi dari ruangan lain seperti badut tudung setan dan Lupi. Kurasakan itu di dalam hati dan kepalaku. Maka aku tahu bahwa itu benar adanya. 

Ketika Mona Lisa berkata bahwa matanya tak bisa melihat sosok Lupi yang sedari tadi kugendong, aku menolak percaya. Kupikir dia sedang menyambut kepulanganku dengan lelucon yang bisa meramaikan suasana. Lalu aku marah dan berteriak padanya untuk serius. Dia melotot dengan matanya yang besar dan berkata padaku, “Jika kau tak percaya maka kau bisa putus hubungan pertemanan kita. Sebagai teman, aku sudah berusaha menjalin kejujuran.”

Aku terdiam. Tubuhku benar-benar membeku saat itu juga. Tanganku yang tadinya bergerak mengelus kepala Lupi, mendadak berhenti. Semuanya berubah canggung. Lalu aku jatuh terduduk di tepi ranjang. Pelan-pelan tubuhku bergerak naik dan bersandar pada kepala ranjang. Kubiarkan Lupi duduk di pahaku, sibuk menjilati bulu kakinya. 

Aku merasakan sesuatu seperti menghentak hatiku. Kata-kata yang keluar dari mulut Mona Lisa, bisa kurasakan kebenarannya. Dia tak sedang bercanda. Itu bukan sebuah lelucon. Aku merasakannya di lubuk hati yang paling dalam. Maka sekarang yang kupikirkan, makhluk seperti apa kucing di depanku ini? Kemudian aku ingat pernah berpikir bahwa makhluk-makhluk yang bisa dilihat Mona Lisa adalah baik dan yang tidak dilihatnya adalah jahat. Kurasa sekarang itu bisa dibuktikan. Aku tidak melihat bagaimana kejahatan yang diperbuat Lupi kepadaku—kecuali tentang dia yang meninggalkanku beberapa saat yang lalu. Selain itu, ia hanyalah kucing putih manis yang bisa menjadi dokter paling hebat dalam hidupku. Mungkin itulah kenapa Mona Lisa tak bisa melihat wujudnya. Sejatinya Lupi adalah makhluk yang baik.

Sudahlah, aku tak perlu begitu berat memikirkannya. Keanehan tempat ini tak ada yang bisa ditebak. Semakin aku menerka, semakin banyak lubang yang muncul di kepalaku. Aku tak mau otakku berlubang. Membayangkan bentuknya saja membuatku ingin muntah. 

Aku merebahkan badan. Rasanya sangat pegal setelah digunakan untuk berlarian dan melompat ke sana kemari. Istirahat adalah sesuatu yang kubutuhkan sekarang. Melepas semua ketakutan dan kewaspadaan yang sudah berlalu. Namun saat aku mulai menengadah dan menghadap ke atas, aku merasa kehilangan sesuatu. 

Langit-langit kamarku hilang, begitu juga lampu-lampu pemberian Biru. Semuanya lenyap. Hanya kekosongan yang begitu tinggi sampai mataku tak menjangkau ujungnya. Sontak aku terbangun, urung untuk melanjutkan istirahat. Kusadari bahwa bentuk kamarku telah berubah tepat ketika gempa datang ke tempat ini beberapa saat lalu. Ruangan ini berubah bundar dengan dinding yang menjulang tinggi ke atas. Sangat tinggi. Tak hanya itu, ada tangga yang memutar ke atas di pinggiran dinding. Tak pernah kusadari keberadaannya karena sibuk menyelamati diriku yang selamat dari situasi mematikan sebelumnya hingga pandanganku kabur.

Aku bangkit dari ranjang, hendak berjalan pelan menuju tangga tersebut. Lupi mengekor di belakang. Lalu tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan. Kakiku seakan lepas dari pijakan dan akhirnya terperenyak ke lantai. Telapak tanganku menyentuh ubin yang berubah dingin. Kurasakan seperti ada embun yang berkumpul di sana. Saat kupikir itu adalah keringat yang keluar dari dalam tubuhku, aku salah besar. 

Dari sela-sela ubin yang terpasang di kamar, keluar genangan air yang sangat dingin. Mereka keluar seperti mata air yang baru ditemukan, berkumpul menjadi satu, membuat sebuah genangan yang besar. Aku segera berdiri setelah merasakan celanaku basah kuyup dibuatnya. Lupi melompat ke atas kasur, mengeong panik. 

“Apa yang terjadi, Pilu?” Mona Lisa bertanya gusar.

Lihat selengkapnya